Trauma Tambang Pasir Progo Belum Usai, Kini Tanah Urug Menghantui Warga Desa Sambeng

Warga Sambeng trauma izin tambang pasir tanpa dialog. Aktivitas merembet, warga tak untung & khawatir tambang tanah urug terulang tanpa transparansi.

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 24 Februari 2026 | 18:52 WIB
Trauma Tambang Pasir Progo Belum Usai, Kini Tanah Urug Menghantui Warga Desa Sambeng
Warga Desa Sambeng, Borobudur melakukan unjuk rasa memasang spanduk menolak penambangan tanah urug. (Suara.com/ Angga Haksoro A).
Baca 10 detik
  • Izin penambangan pasir di Kali Progo terbit tanpa sosialisasi, menyebabkan warga Sambeng mengalami trauma kolektif.
  • Aktivitas penambangan yang awalnya disebut normalisasi kini berubah menjadi eksploitasi tanpa memberikan keuntungan bagi desa.
  • Warga Sambeng kini waspada terhadap izin tambang tanah urug karena khawatir proses serupa akan terulang kembali.

Umar menyoroti fakta bahwa tidak ada keuntungan yang dirasakan desa, setelah dua tahun tambang pasir beroperasi. “Sudah dua tahun tetapi tidak ada keuntungan sepersen pun, serupiah pun, untuk Desa Sambeng.”

Bagi warga Sambeng perkara ini bukan sekadar persoalan bagi hasil. Ini tentang keadilan atas sumber daya yang berada di wilayah mereka.

Trauma Tanah Urug

Dugaan kong kalingkong izin tambang pasir di Kali Progo itu yang membuat warga kini menajamkan kewaspadaan. Mereka tidak mau lagi kecolongan izin penambangan tanah urug.

Baca Juga:Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon

Warga khawatir pola yang sama akan terulang: Izin terbit tanpa keterbukaan. Sedangkan aktivitas terlanjur berjalan tanpa kontrol publik.

Tanah urug—seperti pasir sungai, adalah komoditas penting untuk proyek pembangunan. Permintaannya besar seiring meningkatnya kegiatan pembangunan infrastruktur.

Selain rawan konflik, penambangan pasir sungai dan tanah urug menyimpan potensi kerusakan lingkungan luar biasa. Pengerukan pasir menunjukkan perubahan bentang sungai.

Penambangan pasir menggunakan alat berat menyebabkan pengikisan dinding tebing bantaran sungai.

Kekhawatiran serupa muncul pada rencana tambang tanah urug. Apakah lahan kebun warga akan terdampak? Bagaimana risiko longsor saat musim hujan?

Baca Juga:Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi

“Warga punya tanah. Mau dibeli tidak boleh. Semua perizinan dan apa pun bentuknya tentang pembelian tanah urug seharusnya batal,” kata Umar.

Warga Sambeng kini belajar dari pengalaman kecolongan tambang pasir. Mereka lebih waspada, lebih aktif bertanya, dan lebih berani menyuarakan keberatan.

Trauma kolektif atas tambang pasir di Kali Progo menjadi modal kesadaran baru. Mereka tidak tinggal diam saat wacana tambang tanah urug muncul.

Mereka mengingat apa yang terjadi dua tahun lalu. Mereka belajar bahwa tanpa keterbukaan, pembangunan bisa terasa seperti perampasan yang dilegalkan.

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini