- Kerangka manusia ditemukan oleh pekerja di kebun tebu PTPN Dukuh Sidomulyo, Pemalang pada Senin, 30 Maret 2026 pagi.
- Penemuan ini dipicu oleh bau menyengat yang tercium pekerja sejak dua hari sebelumnya di lokasi terpencil.
- Korban yang identitasnya belum diketahui telah dimakamkan setelah ditemukan hanya menyisakan pakaian doreng dan kolor abu-abu.
SuaraJawaTengah.id - Warga Dukuh Sidomulyo, Desa Pesantren, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang digemparkan oleh penemuan kerangka manusia di area perkebunan tebu milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN), Senin (30/3/2026).
Temuan ini sontak menjadi perbincangan karena kondisi kerangka yang masih utuh serta belum diketahuinya identitas korban. Berikut rangkuman tujuh fakta penting dari peristiwa tersebut.
1. Ditemukan di Area Kebun Tebu yang Sepi
Kerangka manusia ditemukan di area perkebunan tebu yang relatif sepi dan jarang dilalui warga. Lokasi ini merupakan lahan produksi milik PTPN yang biasanya hanya diakses oleh pekerja kebun.
Baca Juga:BRI Peduli Aspal Jalan Desa di Pemalang, Akses Ekonomi Warga Kini Makin Lancar
Kondisi lingkungan yang tertutup tanaman tebu cukup tinggi diduga membuat keberadaan kerangka tersebut tidak langsung terdeteksi dalam waktu lama.
Penemuan ini pertama kali diketahui oleh pekerja yang sedang melakukan aktivitas rutin di lokasi tersebut.
2. Terungkap Sekitar Pukul 09.00 WIB
Peristiwa penemuan kerangka terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, pekerja kebun tengah melanjutkan kegiatan perawatan tanaman tebu seperti penyemprotan dan pengecekan lahan.
Suasana kerja yang semula normal mendadak berubah ketika pekerja menemukan sumber bau tak sedap yang selama ini mengganggu. Penemuan itu pun langsung dilaporkan ke pihak desa dan diteruskan ke aparat kepolisian setempat.
Baca Juga:Dukung Generasi Penerus, BRI Peduli Salurkan Bantuan Fasilitas Pendidikan di Pemalang
3. Berawal dari Bau Menyengat Sejak Dua Hari Sebelumnya
Kapolsek Ulujami, Trino Winarno, menjelaskan bahwa penemuan ini bermula dari kecurigaan salah satu pekerja kebun yang mencium bau menyengat sejak Sabtu (28/3).
“Awalnya salah satu karyawan mencium bau kurang sedap saat hendak melakukan perawatan tanaman tebu,” ujarnya kepada awak media.
Namun saat itu sumber bau belum ditemukan. Pekerja tersebut kemudian menceritakan temuannya kepada rekan kerja saat kembali ke lokasi dua hari kemudian.
4. Sumber Bau Ternyata Kerangka Manusia
Setelah dilakukan pencarian bersama, sumber bau akhirnya terungkap dan mengejutkan semua pihak.
“Selang dua hari saat akan melanjutkan pekerjaan, karyawan ini menceritakan bau tersebut, dan ditemukan sumbernya,” jelas Trino.
Bau menyengat itu berasal dari kerangka manusia yang sudah dalam kondisi tinggal tulang-belulang. Temuan ini langsung membuat pekerja menghentikan aktivitas dan melapor ke pihak berwenang.
5. Masih Mengenakan Pakaian yang Cukup Jelas
Meski sudah menjadi kerangka, korban masih mengenakan pakaian yang cukup jelas cirinya. Hal ini menjadi salah satu petunjuk awal dalam proses identifikasi.
Pakaian yang dikenakan antara lain kaos lengan panjang bermotif doreng hijau serta celana kolor pendek berwarna abu-abu.
“Saat ditemukan kerangka menggunakan kaos lengan panjang motif doreng hijau dan celana kolor pendek warna abu-abu,” terang Trino.
Ciri-ciri ini kemudian disampaikan kepada warga untuk membantu kemungkinan identifikasi.
6. Diduga ODGJ yang Sering Terlihat di Sekitar Lokasi
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, sosok dengan ciri-ciri serupa sebelumnya sempat terlihat di sekitar lokasi kejadian. Warga menyebut pria tersebut kerap berjalan mondar-mandir di area kebun tebu.
“Beberapa saksi pernah melihat seorang laki-laki yang diduga ODGJ dengan ciri-ciri yang sama,” ungkap Trino.
Meski demikian, dugaan ini masih bersifat sementara dan belum dapat dipastikan kebenarannya oleh pihak kepolisian.
7. Identitas Belum Diketahui, Kerangka Sudah Dimakamkan
Hingga saat ini, identitas korban masih belum diketahui secara pasti. Polisi memastikan bahwa korban bukan merupakan warga setempat.
Setelah dilakukan identifikasi awal bersama tenaga kesehatan dari puskesmas setempat, kerangka tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah desa untuk dimakamkan. Proses pemakaman dilakukan di area pemakaman Dukuh Pesadean, Desa Pesantren.
Penemuan kerangka manusia ini menyisakan tanda tanya besar terkait siapa sebenarnya korban dan bagaimana ia bisa berada di lokasi tersebut. Hingga kini, pihak kepolisian masih membuka kemungkinan adanya laporan orang hilang yang sesuai dengan ciri-ciri yang ditemukan.
Masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga diimbau untuk segera melapor agar proses identifikasi dapat dilakukan lebih lanjut. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar, terutama jika terdapat hal-hal mencurigakan yang berpotensi mengungkap peristiwa serius.
Kontributor : Dinar Oktarini