- WHO memantau varian baru Covid-19 BA.3.2 atau Cicada yang terdeteksi di 23 negara sejak September 2025.
- Anak-anak lebih rentan terinfeksi varian Cicada karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk sekuat orang dewasa.
- Meskipun varian ini memiliki mutasi tinggi, belum ada bukti bahwa ia menyebabkan gejala penyakit yang lebih parah.
SuaraJawaTengah.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali membunyikan alarm kewaspadaan terkait munculnya galur baru Covid-19 yang sangat bermutasi.
Varian yang secara resmi dikenal sebagai BA.3.2 atau dijuluki "Cicada" ini kini tengah dalam pemantauan ketat setelah terdeteksi di lebih dari 23 negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.
Meski belum ada bukti varian ini memicu penyakit yang lebih parah, para ahli kesehatan global menyoroti satu kekhawatiran utama: anak-anak tampaknya lebih rentan terhadap serangan varian Cicada dibandingkan orang dewasa.
Kekhawatiran ini muncul berdasarkan analisis data kasus awal, seperti yang terjadi di New York.
Baca Juga:Waspada! Semarang Diprediksi Hujan Sedang Hari Ini, BMKG Ungkap Penyebabnya
Dikutip dari BBC, peneliti mengindikasikan bahwa anak-anak memiliki potensi lebih tinggi untuk terpapar dan dinyatakan positif BA.3.2. Prof Ravindra Gupta dari Cambridge Institute of Therapeutic Immunology and Infectious Diseases menjelaskan fenomena ini kemungkinan besar berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh.
Menurut Gupta, orang dewasa memiliki kelenjar yang memproduksi antibodi yang telah berkembang selama bertahun-tahun, sehingga membentuk benteng kekebalan yang lebih kuat.
Sebaliknya, anak-anak belum memiliki akumulasi paparan virus yang cukup untuk membangun pertahanan serupa.
"Anak-anak secara umum memiliki kekebalan yang lebih rendah dibandingkan orang dewasa karena mereka belum terpapar banyak virus, termasuk infeksi Covid.
Karena itu, Anda mungkin mengira kekebalan anak-anak ini terhadap virus ini lebih lemah," kata Prof Ravindra Gupta.
Baca Juga:Skandal Investasi Bodong 'Snapboost' di Blora: Nama Guru SMA Terseret, Ratusan Juta Melayang
Ia menambahkan, "Anak-anak baru menjalani proses berkembangnya kelenjar tersebut selama beberapa tahun saja, sehingga hal itu mungkin menjadi salah satu alasan mengapa mereka lebih rentan terhadap virus ini."
Varian Cicada sendiri pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024, namun kasusnya baru merebak signifikan pada September 2025. Julukan "Cicada" (tonggeret) disematkan karena karakternya yang seolah bersembunyi lama sebelum muncul secara aktif.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) bahkan menggambarkan BA.3.2 sebagai "sangat berbeda" dari galur Omicron asli karena tingkat mutasinya yang tinggi.
Ian Jones, ahli virologi di University of Reading, menyebut mutasi ini memungkinkan virus untuk "hingga batas tertentu" menghindar dari kekebalan yang telah dibangun sebelumnya.
Terkait gejala, Prof. Paul Hunter, ahli epidemiologi dari University of East Anglia, menuturkan bahwa hingga saat ini belum ada bukti Cicada menyebabkan penyakit yang lebih parah atau memunculkan gejala spesifik yang berbeda dari varian sebelumnya. Gejala umum seperti demam, batuk, dan kelelahan masih mendominasi.
Meskipun vaksin Covid-19 yang ada saat ini mungkin kurang efektif mencegah infeksi akibat mutasi tinggi Cicada, para ahli menekankan bahwa vaksinasi tetap krusial untuk memberikan perlindungan dari risiko penyakit parah.