- PT Pelindo Terminal Petikemas menyetorkan kontribusi negara senilai Rp1,73 triliun sepanjang tahun 2025 melalui pajak dan PNBP.
- Perusahaan memperkuat kapasitas operasional pelabuhan nasional dengan menambah alat bongkar muat untuk meningkatkan efisiensi distribusi logistik.
- Langkah modernisasi ini bertujuan menekan biaya logistik, mempercepat distribusi barang, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional Indonesia.
Selain itu, sejumlah alat tengah dalam proses produkti yakni dua unit QCC dan empat unit RTG untuk TPK Belawan, dua Unit QCC untuk TPK Perawang, dan dua unit RTG untuk Terminal Kijing. Optimalisasi juga dilakukan melalui relokasi alat antarterminal, termasuk pemindahan dua unit QCC dari TPS Surabaya ke TPK Berlian.
Pakar Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Raja Oloan Saut Gurning mengatakan peningkatan jumlah alat bongkar muat pada dasarnya merupakan respons atas kenaikan kunjungan kapal dan volume kontainer yang harus ditangani terminal. Peningkatan trafik peti kemas menjadi indikator tumbuhnya aktivitas ekonomi dan perdagangan laut.
“Secara mendasar, kenaikan kedatangan kapal yang membawa kargo dalam kemasan kontainer menandakan adanya kenaikan ekonomi. Turunannya adalah perdagangan atau interaksi ekonomi lewat laut,” katanya saat dihubungi, Selasa (26/5/2026).
Namun demikian, efisiensi terminal peti kemas tidak melulu ditentukan oleh jumlah alat, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung seperti dermaga, lapangan penumpukan, gudang kontainer, hingga gate keluar masuk terminal. Salah satu indikator utama efisiensi terminal adalah kemampuan menekan waktu kunjungan kapal atau turn around time agar tetap sesuai slot pelayanan yang tersedia.
Baca Juga:Ada Tempat Hiling Baru, 23 Semarang Shopping Center Resmi Buka dengan Konsep Oase yang Bikin Fomo
Selain relokasi alat dari terminal yang tingkat utilisasinya lebih rendah, PT Pelindo Terminal Petikemas juga melakukan retrofitting atau pembaruan alat lama untuk memperpanjang usia operasional dan meningkatkan performa.
Penguatan kapasitas di terminal regional juga dinilai strategis. Di Terminal Kijing, misalnya, lonjakan aktivitas logistik sepanjang 2025 tercermin dari peningkatan kunjungan kapal hingga 15% atau mencapai 741 panggilan kapal.
“Terminal Kijing mengalami lonjakan kunjungan kapal dengan volume kargo nonpetikemas yang cukup besar, baik curah kering maupun curah cair dari industri hilirisasi kelapa sawit dan alumina,” ujarnya.
Ia menyebut selama ini operasional peti kemas di Kijing masih banyak bergantung pada Harbour Mobile Crane (HMC) dan Reach Stacker sehingga tambahan alat dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas layanan.
Sementara itu, TPK Banjarmasin disebut menjadi salah satu urat nadi logistik utama di Kalimantan dengan arus barang domestik yang terus menunjukkan pertumbuhan.
“Arus barang domestik di koridor ini menunjukkan resiliensi yang kuat, terutama dipicu konsumsi domestik dan kebutuhan industri hinterland pendukung pertambangan,” katanya. Dampaknya, frekuensi kunjungan kapal peti kemas domestik terus meningkat dan mulai memberi tekanan terhadap kapasitas lapangan penumpukan.
Baca Juga:Dampingi Prabowo Panen Raya, Ahmad Luthfi Sebut Budidaya Udang Memiliki Prospek Bagus
Adapun di Kendari, kebutuhan penguatan kapasitas terminal meningkat sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko atau Kendari New Port. Sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko, kapasitas terminal melonjak signifikan hingga menyentuh kisaran 116.000 TEUs.
Sementara, pengamat transportasi sekaligus anggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Tory Damantoro, menilai kontribusi PT Pelindo Terminal Petikemas terhadap negara membuktikan bahwa perusahaan memiliki posisi strategis sebagai “jangkar fiskal” yang mendukung pembangunan nasional.
“Sebagai operator pelabuhan komersial nasional, Pelindo punya peran sejati sebagai enabler ekonomi makro agar target penurunan biaya logistik menjadi 8 persen terhadap PDB dapat tercapai,” ujarnya ketika dihubungi Selasa (26/5/2026).
Ia juga mendorong agar perseroan melakukan efisiensi layanan pelabuhan agar dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional. Ketika biaya logistik turun dan arus barang semakin lancar, volume perdagangan nasional akan meningkat dan memperluas basis pajak negara secara berkelanjutan.
Menurutnya, PT Pelindo Terminal Petikemas kini dihadapkan dengan tantangan membangun efisiensi logistik yang lebih luas melalui konektivitas antarpulau dan integrasi sistem distribusi nasional. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem logistik maritim yang mampu menjaga keseimbangan arus barang antardaerah agar biaya logistik dapat ditekan.
“Pelindo harus mengambil peran lebih besar, bukan sekadar efisiensi operasi pelabuhan, tetapi juga efisiensi alokatif geografis agar konektivitas logistik antarpulau menjadi lebih seimbang dan murah,” katanya.