- Konflik internal di Keraton Kasunanan Surakarta mengancam pelaksanaan tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro dengan potensi dua kirab berbeda.
- KGPH Tedjowulan meminta Wali Kota Solo segera memediasi seluruh pihak keraton untuk menyelesaikan dualisme kepemimpinan agar tradisi tetap bersatu.
- Pihak keraton sepakat menyerahkan penyelesaian sengketa kepada pemerintah kota guna mengembalikan citra positif serta menjaga kelestarian budaya Keraton Surakarta.
Namun di luar urusan teknis kirab, persoalan yang lebih besar sesungguhnya adalah citra Keraton Surakarta itu sendiri.
Setiap tahun publik disuguhi polemik yang nyaris serupa. Konflik internal yang tak kunjung selesai membuat perhatian masyarakat bergeser dari nilai budaya menuju pertarungan legitimasi antar-kelompok. Akibatnya, tradisi yang seharusnya menjadi kebanggaan warga Solo justru terus dibayangi kontroversi.
Kini bola berada di tangan Pemerintah Kota Solo. Jika mediasi berhasil dilakukan, Malam 1 Suro bisa kembali menjadi ruang pemersatu budaya. Namun jika gagal, bukan tidak mungkin Solo akan menyaksikan dua kirab pusaka berjalan bersamaan—sebuah ironi bagi tradisi yang selama ini dikenal sebagai simbol harmoni dan keluhuran budaya Jawa.
Kontributor : Ari Welianto
Baca Juga:10 Fakta Penting Dibalik Drama Dua Raja Solo di Keraton Kasunanan Surakarta