- Sebanyak 707 orang dari SMKN 6 Semarang mengalami dugaan keracunan setelah menyantap menu program MBG pada 31 Juli 2026.
- Dinas Kesehatan Kota Semarang menyatakan dapur pemasok makanan baru memenuhi tiga dari 19 standar operasional prosedur yang diwajibkan.
- Penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil laboratorium kultur bakteri yang diperkirakan selesai dalam tujuh hingga 14 hari.
SuaraJawaTengah.id - Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mengungkap sejumlah temuan awal.
Meski penyebab pasti masih menunggu hasil laboratorium, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menemukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan diduga belum memenuhi seluruh standar operasional prosedur (SOP) yang dipersyaratkan.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan penyebab pasti keracunan belum dapat disimpulkan karena sampel makanan masih menjalani pemeriksaan laboratorium melalui kultur bakteri.
"Kalau hasil pastinya belum selesai ya. Karena sampelnya ini kan harus dibiakkan dulu untuk menemukan apakah positif kuman atau bakteri. Butuh dilakukan yang namanya pemeriksaan kultur bakteri di sampel-sampel yang dicurigai," katanya di Semarang, Selasa (5/8/2026).
Baca Juga:Capratar Akpol Tewas Diduga Bunuh Diri Lompat dari Werving Hoegeng
Menurut Hakam, hasil uji laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu 7 hingga 14 hari. Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah menu yang diduga menjadi sumber keracunan, yakni rendang, daun singkong, dan telur puyuh.
Penentuan sampel tersebut dilakukan berdasarkan hasil asesmen dan wawancara terhadap ratusan siswa yang mengalami gejala.
"Dari sekian ratus yang ada tanda dan gejala, kita lakukan asesmen atau anamnesa. Tanya satu-satu kira-kira pada saat makan yang kira-kira bermasalah apanya," ujarnya.
Hasil anamnesis menunjukkan sekitar 49 persen responden mencurigai menu rendang sebagai penyebab gangguan kesehatan, 40 persen mengarah pada telur puyuh, sementara sisanya menyebut daun singkong.
Meski demikian, Hakam menegaskan dugaan tersebut belum bisa dijadikan dasar penetapan penyebab sebelum hasil laboratorium keluar.
Baca Juga:Semarang Capai UHC 100 Persen, BPJS Kesehatan Perluas Layanan Jantung hingga Kanker
Ia menjelaskan, kasus keracunan makanan umumnya dipicu oleh kontaminasi bakteri seperti Staphylococcus, Escherichia coli (E. coli), atau Salmonella, namun kepastian jenis bakteri hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.
Di sisi lain, Dinkes juga menemukan indikasi persoalan dalam proses pengolahan makanan di dapur penyedia MBG. Berdasarkan pengakuan pihak SPPG, makanan yang dikirim ke SMKN 6 Semarang telah dimasak sejak pukul 21.00 WIB pada malam sebelumnya, atau lebih awal dari waktu yang dinilai ideal.
Selain itu, evaluasi sementara menunjukkan penyedia makanan tersebut baru memenuhi tiga dari total 19 SOP yang diwajibkan dalam penyelenggaraan layanan MBG.
"Yang terpenuhi SOP untuk distribusi, kemudian SOP saat diberikan pada siswa. Yang ketiga adalah SOP berkaitan dengan bahan baku," jelas Hakam.
Meski demikian, Dinkes belum menyimpulkan bahwa ketidakterpenuhan SOP tersebut menjadi penyebab langsung insiden keracunan. Seluruh temuan masih menunggu pembuktian ilmiah melalui hasil pemeriksaan laboratorium.
Hakam juga mengungkapkan, dapur SPPG yang sama tidak hanya melayani SMKN 6 Semarang, tetapi juga mendistribusikan makanan ke sejumlah sekolah lain, termasuk PAUD, SD, serta kelompok penerima MBG bagi ibu hamil dan balita.