- Alfira Deanika dari Universitas Islam Indonesia menjuarai tunggal putri Campus League Badminton Regional Semarang 2026.
- Pertandingan final tersebut diselenggarakan di Polytron Stadium Universitas Diponegoro pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
- Alfira berhasil mengalahkan Selvyra Khalifah asal UNESA dengan skor dua gim langsung 15-10, 15-13.
Gelar di Semarang bukan menjadi titik akhir ambisi Alfira. Sebelumnya, ia juga pernah meraih juara dalam ajang internasional Polytron di Magelang. Kini, ia memasang target lebih tinggi untuk kompetisi-kompetisi berikutnya.
“Target pastinya lebih baik dari ini,” tegasnya.
Panggung Baru Atlet Mahasiswa
Kemenangan Alfira sekaligus menggambarkan tujuan yang ingin dibangun Campus League. CEO Campus League Ryan Gozali mengatakan, kompetisi ini dirancang bukan sekadar menjadi turnamen antarkampus, tetapi juga ruang bagi talenta badminton yang belum menembus pelatihan nasional (Pelatnas).
Menurut Ryan, ekosistem olahraga mahasiswa memiliki posisi penting karena tidak semua atlet berbakat dapat masuk ke Pelatnas.
“Kalau futsal dan basket itu ajang mencari pemain timnas. Tapi kalau badminton, kami ingin menaungi talenta-talenta yang tidak bisa menembus Pelatnas. Karena terbatas, kami punya sekitar 40 pemain yang mungkin bisa ke Pelatnas,” jelas Ryan.
Campus League, lanjut dia, diharapkan menjadi jembatan bagi atlet untuk tetap memiliki jalur kompetisi sekaligus pendidikan. Sebab, karier sebagai atlet memiliki masa yang terbatas.
“Campus League bisa menjadi ajang berkompetisi dan mengejar akademik. Kita tahu karier di atlet juga terbatas,” katanya.
Karena itu, Campus League ingin membangun jenjang kompetisi yang memungkinkan atlet terus berkembang sembari menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Baca Juga:Curhatan Pilu Susi Susanti Prestasi Dunianya Bak Habis Manis Sepah Dibuang
Musim perdana di Regional Semarang menjadi tahap awal. Setelah evaluasi penyelenggaraan regional, Campus League menargetkan kompetisi berkembang ke level nasional melalui The Nationals.
“Kami akui banyak yang perlu di-improve. Tapi harap dimaklumi karena ini pertama kali kami menyelenggarakan di tingkat kampus. Kami awali dengan regional, nantinya akan bermain di level Campus secara nasional,” ujar Ryan.
Ia juga mengakui belum seluruh perguruan tinggi berani mengirimkan atlet terbaiknya. Menurutnya, sebagian kampus kemungkinan masih dalam tahap membangun kepercayaan diri serta sistem perekrutan talenta olahraga.
Undip Dorong Atlet Tak Tinggalkan Akademik
Dukungan terhadap konsep tersebut juga datang dari tuan rumah. Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Prof. Dr.rer.nat. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T., menilai kompetisi seperti Campus League mampu mengisi aktivitas mahasiswa di luar kegiatan akademik.
“Mahasiswa di kampus hanya lima sampai enam jam, selebihnya ada kegiatan di luar kampus. Maka dengan kegiatan ini bisa untuk mengisi aktivitas mahasiswa. Kami sangat setuju dengan badminton Campus League ini,” kata Heru.