- Mahasiswa Universitas Terbuka Semarang, Muhammad Agil Firmansyah, meraih peringkat ketiga tunggal putra Campus League Badminton Regional Semarang pada 26–29 Agustus 2026.
- Kompetisi di Polytron Stadium Universitas Diponegoro tersebut diikuti 149 atlet dari 17 perguruan tinggi dan menggunakan sistem skor baru 15 poin.
- Meskipun kuliah secara daring dari luar negeri, Agil berhasil mengamankan tempat dan membidik kejuaraan tingkat nasional serta internasional.
SuaraJawaTengah.id - Kuliah secara daring dari luar negeri tak menghalangi Muhammad Agil Firmansyah untuk terus mengejar prestasi di lapangan bulu tangkis.
Mahasiswa semester 5 Universitas Terbuka (UT) Semarang itu bahkan berhasil merebut peringkat ketiga tunggal putra dalam musim perdana Campus League Badminton Regional Semarang.
Agil menjadi salah satu dari 149 student-athlete yang bertarung dalam Campus League Badminton Regional Semarang di Polytron Stadium, Universitas Diponegoro, pada 26-29 Agustus 2026.
Kompetisi tersebut diikuti 17 perguruan tinggi dari berbagai daerah, mulai Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Surakarta, Purwokerto hingga Makassar.
Baca Juga:Skuad Java United FC Resmi Dilaunching, Jalankan Dua Misi Besar Sepak Bola
Bagi Agil, podium ketiga sudah menjadi hasil yang patut disyukuri. Apalagi, kompetisi kali ini menghadirkan tantangan berbeda karena menggunakan sistem skor terbaru dari Badminton World Federation (BWF).
"Kalau saya tidak masalah juara tiga, alhamdulillah. Hasilnya sudah sesuai target, meskipun memang belum maksimal," ujar Agil, Jumat (28/8/2026).
Dalam sistem baru tersebut, nomor perseorangan menggunakan format best of three games dengan masing-masing gim hingga 15 poin. Sistem ini membuat setiap kesalahan menjadi jauh lebih mahal karena pertandingan berlangsung lebih singkat.
Agil mengaku harus mengubah pendekatan bermain. Jika sebelumnya pemain masih memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengejar ketertinggalan, kini konsentrasi sejak poin pertama menjadi sangat menentukan.
"Biasanya 21 poin, sekarang 15. Jadi harus lebih fokus dari awal dan lebih siap," katanya.
Baca Juga:Diduga Belum Kantongi Izin Lengkap, Ratusan Warga Geruduk Pabrik Sepeda Listrik di Semarang
Tekanan itu benar-benar dirasakan Agil saat pertandingan perebutan tempat ketiga. Ia mengawali pertandingan dengan permainan yang cukup tenang dan berhasil mengamankan gim pertama.
Namun, memasuki gim kedua, sejumlah kesalahan membuat permainannya goyah. Dukungan sang ayah yang berada di sisi lapangan menjadi salah satu pemantik agar dirinya kembali tenang.
"Set kedua malah banyak melakukan kesalahan. Dari belakang ada papa yang bilang, 'tenang-tenang'. Akhirnya saya bisa kembali fokus dan berhasil," tuturnya.
Menurut Agil, sistem skor baru membuat pertandingan lebih menuntut konsentrasi dibanding sekadar daya tahan fisik.
"Kalau aturan baru ini tidak perlu fisik (panjang), tapi harus lebih fokus. Pressure-nya pasti. Kurang fokus sedikit saja bisa kehilangan poin," ujarnya.
Pengalaman Agil menunjukkan bagaimana sistem baru tersebut turut mengubah karakter pertandingan di level mahasiswa.