- Rumah Arsip Banjoemas mengajukan 140 foto bersejarah tahun 1900 hingga 1970-an untuk Memori Kolektif Bangsa ANRI.
- Pengumpulan arsip foto tersebut melibatkan pencarian dari kolektor pribadi, pasar barang antik, hingga luar negeri.
- Upaya penyelamatan arsip ini dilakukan bersama 17 lembaga untuk memperkuat sejarah jaringan dagang dan budaya batik Indonesia.
“Karena itu, keterlibatan dalam nominasi Memori Kolektif Bangsa menjadi bagian dari upaya memperkenalkan nilai arsip lokal dalam konteks sejarah nasional,” katanya.
Setelah dihimpun, arsip-arsip tersebut tidak hanya disimpan. Rumah Arsip Banjoemas juga mengembangkan pemanfaatannya melalui penelitian, digitalisasi, pameran, serta edukasi kepada masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus menjadi cara agar arsip tidak berhenti sebagai benda koleksi, tetapi dapat terus digunakan untuk membaca sejarah.
Rumah Arsip Banjoemas merupakan ruang komunitas yang dikelola Banjoemas History Heritage Community. Fokus utamanya adalah mengumpulkan, menyelamatkan, dan menghidupkan kembali memori lokal melalui berbagai arsip.
Baca Juga:Kematian Lansia di Banyumas Terungkap, Diduga Dibunuh Istri Sendiri
Koleksinya mencakup foto lama, dokumen sejarah, serta berbagai materi visual yang berkaitan dengan kebudayaan Banyumas Raya.
Selain menjadi ruang penyimpanan, Rumah Arsip Banjoemas juga menjalankan kegiatan riset, edukasi publik, dan kampanye kesadaran mengenai pentingnya pelestarian arsip.
Bagi Jatmiko, penyelamatan arsip pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga benda-benda lama. Lebih jauh, arsip menjadi cara untuk memastikan cerita tentang masyarakat masa lalu tidak ikut hilang ketika generasinya telah berganti.
Melalui 140 foto yang diajukan dalam nominasi tersebut, jejak batik Banyumas kini tidak hanya berusaha diselamatkan sebagai memori lokal, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian dari ingatan sejarah bangsa.
Baca Juga:Kematian Janggal Pemilik Bengkel di Banyumas, Warga Curiga Terjadi Pembunuhan