SuaraJawaTengah.id - Selain Lebaran Idul Fitri yang jatuh setiap tanggal 1 Syawal, Masyarakat Jawa juga mengenal Lebaran Ketupat yang kerap dirayakan satu minggu setelah 1 Syawal, tepatnya 8 Syawal.
Tradisi tersebut kerap dirayakan di setiap daerah perkotaan hingga pelosok kampung di Pulau Jawa, tak terkecuali dengan yang dilaksanakan di Kampung Jaten Cilik, Kecamatan Pedurungan Kota Semarang Jawa Tengah seperti dilansir Solopos.com - jaringan Suara.com, Jumat (14/6/2019).
Uniknya tradisi di Kampung Jaten Cilik ini identik dengan kuliner ketupat yang berbeda dari daerah lainnya. Kupat Jembut, begitu nama kuliner yang membedakannya dengan kuliner yang kerap kali muncul dalam perayaan lebaran ketupat di daerah lain. Meski kata jembut memiliki arti konotatif lantaran menjadi hal yang tabu karena terkait dengan bagian alat kelamin, namun Kupat Jembut tetap diburu saat Lebaran Ketupat di wilayah tersebut.
Mulai dari orang tua hingga anak-anak rela bangun lebih pagi untuk berebut Kupat Jembut pada perayaan Syawalan di Kampung Jaten Cilik.
Bentuk kuliner yang satu ini sekilas sama dengan ketupat pada umumnya. Namun warga Kampung Jaten Cilik menambah sayuran taoge di bagian tengah ketupat yang menjuntai keluar dari daun janur yang membungkus ketupat. Selain itu, di tengah ketupat tersebut juga terselip beberapa lembar uang kertas yang menjadi daya tarik Kupat Jembut.
"Cara bikinnya sama dengan ketupat pada umumnya. Hanya di sini yang khas ada tambahan isian taoge dan uang. Ini (uang) yang jadi rebutan anak-anak," ujar seorang warga Kampung Jaten Cilik, Munawir Rabu (14/6/2019).
Terkait nama Kupat Jembut, Munawir mengemukakan warga di kampungnya sudah terbiasa dengan kuliner ketupat isi taoge tersebut. Meski terdengar aneh dan saru, namun banyak warga yang antusias membuat Kupat Jembut setiap perayaan Syawalan.
Meski begitu, Kupat Jembut tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah berdirinya Kampung Jaten Cilik. Cerita yang disampaikan turun temurun ini pun disampaikan Munawir terkait pembuatan Kupat Jembut yang kali pertama diawali dua sesepuh kampungnya yang hijrah dari Demak ke Pedurungan.
"Ada dua pasangan suami istri yang pindah ke Semarang. Mereka membuka lahan di sini. Sebagai pelopor berdirinya Kampung Jaten. Mereka lalu membuat sebuah budaya untuk memperingati Syawalan. Salah satunya agar ketupatnya lebih bergizi, maka diisi dengan taoge dan kubis," ujar pria berusia 45 tahun ini.
Baca Juga: Ratusan Hewan Ternak Diarak Ramaikan Tradisi Syawalan di Boyolali
Dikemukakan Munawir, Tradisi Kupat Jembut sudah berlangsung sejak tahun 1950-an. Pembuatan ketupat menyimbolkan kesederhanaan warga setempat dalam menyambut perayaan Syawalan. Untuk menyantap Kupat Jembut, tidak harus disantap dengan opor ayam sebagaiman ketupat pada umumnya.
Warga biasanya menyantap Kupat Jembut dengan sayuran yang dicampur parutan kelapa dan sambal atau gudangan. Meski begitu, ia meyakini Tradisi Kupat Jembut tak bisa dilepaskan dari wujud syukur kepada Allah SWT yang memberikan berkah selama Ramadan.
"Kalau pas bagi-bagi kupatnya paling ramai itu karena banyak keluarga yang mudik. Jadinya yang datang jauh-jauh dari kota-kota besar ikutan nyawer,” ujar Munawir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR
-
Bukan Sekadar Pintar, Ini Tantangan Terberat Pemimpin Muda di Era Digital Menurut Gus Yasin
-
Tragedi Porprov Jateng 2026: Dua Atlet Berprestasi Meninggal Dunia, Polisi Periksa Keterangan Dokter
-
Bukan Cuma Hiburan, Sarif Abdillah Sebut Kesenian Tradisional Simpan Petuah Penting