SuaraJawaTengah.id - Kasus HIV/AIDS di Kota Tegal terbilang tinggi. Mayoritas penderitanya adalah laki-laki penyuka sesama jenis atau homoseksual.
Pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Tegal, Lenny Harlina mengatakan, sejak Januari 2018 hingga November 2020, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) berjumlah 353 orang. Terdiri dari 227 penderita HIV dan 126 penderita AIDS.
"Dari 353 temuan kasus HIV/AIDS, jumlah penderita yang meninggal 56 orang," kata Lenny kepada Suara.com, Senin (30/11/2020).
Lenny mengungkapkan, penderita HIV/AIDS terbanyak merupakan LSL atau laki-laki penyuka sesama jenis. Jumlahnya mencapai 116 orang.
Disusul penderita dari kalangan pelanggan WPS (wanita pekerja seks) sebanyak 113 orang dan pasangan risiko tinggi sebanyak 54 orang.
"Selain LSL (lelaki suka lelaki), pasangan risiko tinggi dan pelanggan WPS, ada juga yang dari kalangan WPS sebanyak 25 orang, pengguna narkotika suntik 13 orang, warga binaan pemasyarakatan atau lapas 10 orang, waria 9 orang dan lain-lain 13 orang," ujarnya.
Adapun titik-titik yang menjadi lokasi penyebaran HIV/AIDS dari hasil pemetaan Dinas Kesehatan yakni karaoke, tempat pijat dan spa, warung lesehan, kos WPSTL, basecamp LSL, dan basecamp waria.
"Tempat-tempat yang menjadi titik penyebaran tersebut tersebar di beberapa kelurahan," ujar Lenny.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, dalam lima tahun terakhir, jumlah temuan kasus HIV/AIDS di Kota Tegal cenderung mengalami peningkatan dari tahun-tahun ke tahun.
Baca Juga: Duh, Pandemi Covid-19 Bikin Infeksi Baru HIV Meroket
Penurunan jumlah kasus tercatat hanya terjadi pada 2018. Pada tahun itu, terdapat 84 kasus HIV/AIDS. Menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 127 kasus.
Sementara hingga November tahun ini, jumlah kasus HIV/AIDS sudah mencapai 107 kasus, terdiri dari 88 HIV dan 19 AIDS. Jumlah ini sudah melampaui jumlah kasus pada 2019 yang mencapai 86 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tegal Sri Primawati Indraswari mengatakan, sejumlah upaya dilakukan pemerintah untuk mencapai target three zero yakni tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat HIV/AIDS, serta tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap ODHA pada 2030.
"Upaya yang dilakukan di antaranya sosialisasi, penyuluhan kepada masyarakat termasuk agar tidak mengucilkan ODH, dan juga pengobatan melalui 11 layanan HIV/AIDS," katanya.
Kontributor : F Firdaus
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Kendal Tornado FC Tambah Amunisi, Birrul Walidain dan Andre Oktaviansyah Resmi Bergabung
-
Ungguli Jatim dan Jabar, Jateng Pimpin Penyaluran Kredit Perumahan Nasional
-
PT Bhimasena Power Indonesia Raih LKPM Award Kategori PMA pada Peluncuran BATANG INVESTA
-
Sindikat Pencurian Spesialis Rumah Lansia Dibongkar, Polresta Solo Tangkap Dua Pelaku
-
Semarang Capai UHC 100 Persen, BPJS Kesehatan Perluas Layanan Jantung hingga Kanker