SuaraJawaTengah.id - Hujan dengan intensitas tinggi memicu longsor di beberapa daerah wilayah Indonesia pada akhir-akhir ini. Banyak antisiapsi yang dilakukan, namun tetap saja memakan korban.
Hal itulah yang kemudian membuat Tim Kolaborasi Pemuda Bersedekah yang salah satunya berisikan mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto berkreativitas merakit alat pendeteksi dini longsor dengan harga ekonomis.
Tito Yudatama (22), mahasiswa Jurusan Fisika, yang merakit alat tersebut menjelaskan dirinya melakukan ujicoba dan riset selama 2 bulan. Alat ini menggunakan komponen sederhana yang mudah didapatkan di pasaran.
"Ini adalah pengembangan alat sistem peringatan dini, disini untuk mendeteksi pergerakan tanah dibuat sederhana mungkin agar masyarakat umum bisa membuatnya karena memang itulah tujuannya agar masyarakat bisa hidup berdampingan dengan bencana," katanya saat ditemui, Kamis (21/1/2021).
Komponen yang digunakan berupa baterai 9 volt, lalu boks hitam untuk membungkus komponen berbahan plastik, pasak, lalu sirine dengan ukuran kecil dan tali sling baja ukuran menyesuaikan dengan jarak lokasi yang akan dipasang.
"Cara kerjanya, apabila pasak yang dipasang bergeser menjauhi sumber alat yang dipasang maka akan mencabut jek. Sehingga akan membunyikan sirine. Alat ini cocok untuk skala yang kecil kurang lebih 100 meter dari lereng menuju permukiman. Kurang cocok skala besar yang jaraknya jauh dari permukiman karena terbatas menggunakan sirine kecil," jelasnya.
Jika dibandingkan dengan alat pendeteksi longsor yang selama ini beredar dengan harga Rp 3,5 juta sampai ratusan juta, alat ini tergolong murah. Karena tidak sampai menghabiskan biaya Rp 500 ribu.
"Untuk alat ini hanya menghabiskan Rp 350 sampai 400 ribu. Karena itu tadi komponennya sederhana. Gampang didapatkan dan murah," terangnya.
Alat ini menurut Tito, berawal dari BPBD Magelang. Kemudian dirinya menghubungi untuk dikembangkan dengan harga yang lebih ekonomis agar bisa dibuat sendiri oleh masyarakat luas.
Baca Juga: Yamaha Berikan Apresiasi Kepada Anak Muda, Dukung Festival Ayo Membaca
"Kami membuat projek sosial, rencananya membuat prototipe ini. Nah kami sedang mengajukan proses kolaborasi dengan BPBD Banyumas, kalau disetujui kami mahasiswa akan menggalang dana lalu membuat bersama mitra dalam hal ini UKM Mahasiswa, nanti BPBD hanya menerima hibah kami serahkan langsung untuk implementasi," lanjutnya.
Dirinya mengatakan jika cara kerja alat ini merupakan mekanis. Kemudian diberi komponen kelistrikan, berbeda dengan menggunakan sensor yang ada proses kalibrasi untuk mengetahui sensitifitasnya.
"Jadi ada proses lebih panjang. Itulah yang menyebabkan perbedaan harganya. Mulai menggunakan panel surya. Dan aki juga mahal. Sensornya saja mungkin harganya mencapai Rp 2 jutaan," pungkasnya.
Kontributor : Anang Firmansyah
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Sadis! Rampok Ponsel Tebas Telinga Korban hingga Nyaris Putus di Semarang
-
Bripka EJ Mubaligh Polres Wongiri Tersangka Kekerasan Seksual, Terancam Sanksi Kode Etik Pemecatan
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja
-
Musim Kemarau di Jateng Datang, Pendaki Gunung Diminta Tak Nyalakan Api Sembarangan