SuaraJawaTengah.id - Setiap nelayan memilki budaya atau tradisi yang turun temurun mereka lakukan sebelum melaut. Termasuk nelayan dari Kota Tegal.
Sebagian besar masyarakat Kota Tegal memang menggantungkan nasib dari hasil laut. Namun ternyata, di tengah berkembangnya zaman, masih ada sederet tradisi yang masih dilakukan para nelayan di Kota Tegal.
Dilansir dari Ayosemarang.com, Tokoh masyarakat pesisir, Tambari Gustam mengatakan, sedikitnya ada 4 tradisi yang masih eksis dilakukan oleh para nelayan, antara lain;
1. Tradisi Sambat Jog Perahu atau gotong royong menurunkan perahu ke sungai.
Menurut Tambari, jog perahu merupakan tradisi turun temurun yang hingga saat ini masih banyak dijumpai di wilayah pesisir Kota Tegal.
"Jadi cara menurunkan perahu masih menggunakan cara tradisional. Perahu diturunkan secara rame-rame, meski sekarang sudah ada alat pendorong modern atau hidrolis," katanya belum lama ini.
Ia mengatakan, tradisi ini hampir ada di semua daerah pesisir. Tradisi ini juga menjadi simbol kegotongroyongan masyarakat pesisir Kota Tegal yang masih kental dan harus dilestarikan.
"Bagi nelayan yang tidak sedang melaut, ketika ada rame-rame mereka akan datang. Karena itu nanti akan gantian. Meskipun mereka tidak dibayar dengan uang, biasanya hanya wedangan dan rokok," ucapnya.
2. Tradisi Labuhan
Baca Juga: Hadiri Reuni, Suami-Istri di Kota Tegal Meninggal Terpapar Covid-19
Tadisi ini diperuntukan bagi nelayan yang baru melepas masa lajangnya. Ada juga yang diperuntukan untuk kapal nelayan.
"Jadi tradisi ini jika ada pengantin baru yang belum genap 40 hari tapi mau berangkat melaut. Mereka harus menggelar acara labuhan dulu," katanya.
Dalam tradisi labuhan, orang yang bersangkutan akan diarak ke tepi laut oleh orangtuanya.
"Orang yang bersangkutan diluluri dengan rempah-rempah dulu, baru diarak ke tepi laut. Kemuduan melarung sesajian yang berisi kembang setaman, nasi liwet yang ditaruh dikendi dan dikasih telur, ingkung, pisang tujuh rupa dan lain sebagainya," terangnya.
Tambari mengatakan, tradisi labuhan memiliki makna wujud syukur kepada Allah SWT sekaligus mendoakan agar selama melaut diberi keselamatan.
3. Tradisi Sambetan
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR
-
Bukan Sekadar Pintar, Ini Tantangan Terberat Pemimpin Muda di Era Digital Menurut Gus Yasin
-
Tragedi Porprov Jateng 2026: Dua Atlet Berprestasi Meninggal Dunia, Polisi Periksa Keterangan Dokter
-
Bukan Cuma Hiburan, Sarif Abdillah Sebut Kesenian Tradisional Simpan Petuah Penting
-
Konflik PPP Memanas, Mardiono Depak Waketum Agus Suparmanto dan Taj Yasin