SuaraJawaTengah.id - Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya efektif bisa mencerdaskan anak-anak bangsa. Apalagi dengan Pandemi Covid-19, para siswa dipaksa harus belajar atau melakukan sekolah online.
Kisah menarik terjadi menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan, jamaah tarawih di masjid dan mushola mulai sepi. Orang-orang sibuk menyiapkan baju dan ketupat untuk Hari Raya.
Masjid hanya menyisakan segelintir takmir mengurus takjil dan bocah-bocah yang sibuk menenteng buku. Iya buku. Buku Kegiatan Bulan Ramadhan.
Selama Ramadan, anak-anak ini dapat tugas sekolah tambahan ‘mencatat amal’. Latihan ibadah mereka di bulan Ramadhan akan ditakar berdasarkan cek list puasa, sholat, yang disahkan paraf orang tua dan imam masjid.
Kesalihan mereka ‘mencatat amal’ itu dilakukan disela kesibukan mengerjakan tugas online dari sekolah yang bejibun banyaknya. Soal sub tema ini dan itu, pembahasan materi yang satu dan lainnya.
“Program daring bener-bener tidak efektif. Kami mendapati anak-anak sekarang daripada belajar daring sama ‘belajar’ game online, lebih dimaksimalkan game online-nya,” kata Founder Sendal Jepitan Bareng, Budi Irawanto.
Menurut Budi, belajar daring menghilangkan pengalaman interaksi murid dengan teman sebaya. “Dia hanya duduk main HP. Nggak ada tegur sapa. Itu yang berbahaya.”
Menyerahkan tugas mengajar pada orang tua yang nol ilmu pengajaran, berimplikasi pada metode belajar yang salah. Belum lagi kondisi psikis orang tua yang cenderung di bawah tekanan ekonomi akibat pandemi.
“Bahasa orang tua yang seharusnya tidak didengar anak, keluar saat jenuh harus ikut mengajar. Padahal orang tua juga sudah sibuk mengurus pekerjaan,” ujar Budi saat ditemui SuaraJawaTengah.id, Minggu (2/5/2021).
Baca Juga: Peninggalan Masjid Kuno di Magelang, Tempat Kumpul Kiai saat Ramadhan
Budi tidak sepenuhnya membenarkan tindakan menyediakan sarana wifi untuk membantu anak-anak sekolah belajar online. Menurut dia, 90 persen penggunaan sarana internet gratis disalahgunakan anak untuk main game atau menjelajah media sosial.
“Nggak bisa seperti itu. Kalau nggak ada pendampingan nggak akan bisa. Eman-eman malahan wifii mu, saya bilang begitu.”
Selama 2 jam belajar, anak-anak sama sekali dilarang memegang telepon genggam. Ternyata mereka dapat asik bermain bersama teman-teman dan relawan.
Situasi itu yang kemudian mendorong Budi Irawanto bersama sekitar 20 relawan menjalankan “Sekolah Alam Sandal Jepitan Bareng” di Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Sekolah yang digelar di tepi Kali Progo itu diikuti 44 anak warga sekitar. Karena bukan sekolah formal, rentang usia peserta didik juga beragam dari balita hingga siswa kelas 6 sekolah dasar.
Materi belajar antara lain soal budi pekerti, empati terhadap orang lain, dan merangsang kreatifitas. Semua pembelajaran dikemas dalam suasana santai lewat atraksi sulap, pantomime, dan permainan tradisional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Sempat Dihalangi Dampingi Puluhan Massa Aksi di Polda DIY, 34 Orang Akhirnya Dipulangkan
-
5.040 Bendahara Koperasi Merah Putih Dilatih, Seberapa Siap Kelola Dana dan Bisnis Desa?
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Kebijakan Pengupahan Lindungi Pekerja Tanpa Matikan Usaha
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet