Sebelum Mahesa Jenar tenar, PSIS juga sempat dijuluki dengan “Tim Goyang Semarang”.
Untuk julukan ini mencuat pada tahun 1985-1986. Ir Andi Chaerudin, yang saat itu menjadi manajer di 16 besar saat mengantarkan PSIS ke Divisi Utama adalah sosok yang berperan dalam sebutan tersebut.
Kata Amir, waktu itu Andi Chaerudin berkata, “Tunggu permainan PSIS yang indah dengan Goyang Semarang.” Perkataan itu tercetus karena dia terinspirasi dari Goyang Karawang.
Julukan Tim Goyang Semarang tidak bertahan lama. Sebutan itu terkikis kala PSIS sudah punya Mahesa Jenar.
“Katanya dekat dengan stigma erotis, akhirnya julukan itu tidak dipakai lagi,” ujar Amir.
Jago Becek Bukan Berarti Sempurna di Lapangan Becek
Dalam koran-koran edaran 1987, PSIS sempat disebut-sebut juga sebagai tim yang jago kandang dan jago becek. Namun sebutan yang kedua adalah julukan yang masih terus disinggung-singgung sampai sekarang.
Sartono Anwar saat ditemui di warung kiosnya yang baru mengamini julukan tersebut. Menurutnya puncaknya adalah saat PSIS mengalahkan PSM Ujung Pandang (sekarang PSM Makassar).
“Waktu itu kami sudah kalah 0-2. Suporter maki-maki kami. Hujan lebat dan lapangan becek. Namun tidak tahu kenapa di menit-menit akhir kami mampu mengembalikan keadaan,” ungkap Sartono.
Baca Juga: Timnas Indonesia Imbangi Thailand, Warganet Sebut Bek PSIS Semarang Bak 'Alien'
Sartono menjelaskan, yang membuat PSIS jago becek adalah karena punya fisik yang prima dan latihan di Lapangan Citarum yang belum bagus-bagus amat. Namun di lain sisi dia juga berkata jika sebetulnya, PSIS tidak sesempurna itu di lapangan becek. Bahkan pernah kalah juga.
“Itu kan dulu yang membesar-besarkan media,” sambungnya.
Jika menengok ke belakang, sebetulnya yang patut disorot pada tahun itu adalah karena PSIS punya fisik yang prima sehingga bisa menaklukan lapangan becek yang cenderung menguras energi. Hal inilah juga yang menjadi salah satu senjata PSIS dalam meraih trofi Liga Perserikatan 1986-1987.
Fisik prima PSIS tadi memang dipupuk dengan sangat baik. Dua orang yang berperan pada saat itu adalah pelatih fisik Supriyadi dan Dokter Tim Sumitro. Keduanya saling sinergi untuk mengembangkan fisik pemain PSIS.
Supriyadi dengan keterbatasan infrastruktur penunjang, memompa fisik pemain dengan program atletik yang variatif dan gerakan tanpa bola. Sementara Dokter Sumitro, senantiasa mengontrol kadar Hemoglobin setiap pemain.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Heran Febrie Adriansyah Dipanggil sebagai Tersangka, Pengacara: Baru Kali Ini Kami Lihat
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Mengurangi Flek Hitam pada Usia 50 Tahun ke Atas? Ini 7 Rekomendasinya
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
BRImo Taiwan Menang Anugerah Inovasi Indonesia 2026, Layani Kebutuhan Finansial Diaspora
-
PSIS Diuji Mental di Laga Perdana Championship, PSPS Datang dengan Modal Dua Pekan di Semarang
-
Wartawan Diusir Saat Liput Kasus Keracunan MBG di Rembang, PWI Jateng Buka Suara
-
Tak Gentar Jalan Berlumpur dan Minim Sinyal, Kepala Unit BRI Temui Pelaku UMKM
-
Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis di Pati Meluas, Tiga Sekolah Terdampak