SuaraJawaTengah.id - Jumlah ambulans yang lalu-lalang di jalanan meningkat selama beberapa minggu terakhir. Mengantar wajah-wajah cemas keluarga pasien ke rumah sakit.
Di jalanan. Tidak semua orang perduli atau paham situasi darurat yang dihadapi mereka. Menyebabkan ambulans sering tertahan atau terlambat tiba di rumah sakit.
Padahal dalam situasi genting, nyawa pasien bergantung pada kecepatan laju ambulan tiba di rumah sakit. Setiap detik bisa bermakna hidup atau mati.
Nur Widhi Setyabudi (20 tahun), baru lulus sekolah menengah atas setahun lalu. Kepada SuaraJawaTengah.id, Widhi mengaku sedang menunggu panggilan bekerja dari salah satu perusahaan otomotif di Kerawang, Jawa Barat.
“Kemarin sudah tes wawancara, sekarang tinggal nunggu panggilan. Tes kesehatan sama tes tertulis Alhamdulillah lolos semua. Mudah-mudahan diterima," ungkapnya.
Hari itu Widhi mengenakan jaket hitam-merah bertuliskan Indonesian Escorting Ambulance di punggungnya. Setahun belakangan ini, Widhi menjadi anggota aktif komunitas pengawalan ambulan itu.
Tugasnya memberikan pengawalan kepada ambulan yang mengatar pasien baik dalam kondisi gawat maupun rujukan ke rumah sakit. Sesekali mengantar juga ambulan jenazah.
Indonesian Escorting Ambulance (IEA) adalah komunitas pengawalan ambulan yang berafiliasi nasional. Widhi tergabung dalam IEA Cabang Magelang.
Anggota aktifnya lebih dari 15 orang di Magelang. Latar belakang anggotanya beragam dari pekerja biasa, pegawai pemerintahan, dan ada juga mahasiswa.
Baca Juga: Dirut RSUP Dr Sardjito dan RSJ Prof Dr Soerojo Magelang Ditukar Posisi
Sebab pengawalan ambulan adalah kerja relawan, kebanyakan mereka bekerja tanpa dibayar. Biaya bensin, perawatan motor, dan jaket seragam yang menjadi identitas di jalan semua dirogoh dari kantong sendiri.
“Yang penting kita menolong. Karena kita kan basisnya memang relawan. Yang penting tujuan utama kita saat escort, ambulan cepat sampai ke rumah sakit dan pasien segera mendapat pertolongan," ujar dia.
Meski bukan pekerjaan utama, tugas pengawalan ambulan tidak bisa juga disebut kerja sambilan. Sebab mereka harus siap bertugas sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
Saat pengawalan, dibutuhkan paling sedikit dua personel yang menjaga depan dan belakang ambulan. Pengawal depan bertugas membuka jalan dan di belakang memutus kendaraan lain yang biasanya nyolong situasi membuntuti ambulan.
Melaju dalam kecepatan tinggi, ambulan yang berhenti mendadak dapat membahayakan kendaraan yang mengekor.
Kecepatan mengantar ambulan tergantung pada kondisi pasien yang dibawa. Misal kode merah yang berarti pasien membutuhkan penanganan darurat, motor bisa melaju lebih dari 100 kilometer per jam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
BRI Gelar Buyback Fluktuatif Rp500 Miliar, Optimistis Fundamental Tetap Kuat
-
Semen Gresik Konsisten Salurkan Beasiswa Prasejahtera kepada 120 Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri
-
Sokong MBG, Taj Yasin Minta SPPG Belanja Telur dari Peternak Lokal
-
Pemprov Jateng Buka Ribuan Kursi Sekolah Gratis, Sasar Anak Keluarga Kurang Mampu
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Sumur Bor JadI Solusi Petani Tak Gagal Panen saat Kemarau