SuaraJawaTengah.id - Sosok Rini Sari Handayani adalah pengrajin batik di Kota Semarang yang membuat seragam batik untuk gereja di seluruh Indonesia. Apa yang dilakukan Iin merupakan wajah toleransi di Kota Semarang.
Meski beragama Islam, tak menjadi soal baginya harus membuatkan seragam untuk jamaat gereja di Seluruh Indonesia. Rini justru merasa bangga karena bisa dipercaya jamaat untuk membuat seragam batik untuk mereka.
Rini bertempat tinggal di Kampung Batik Kota Semarang. Dia menekuni bisnis tersebut kebanyakan secara otodidak dan juga beberapa pelatihan batik dari pemerintah.
Setiap tahunnya dia mendapat pesanan dari gereja dari seluruh Indonesia. Meski demikian dia tak menceritakan awal mula dia mendapatkan pesanan dari jamaat gereja di seluruh Indonesia itu.
"Biasanya pesennya puluhan, kan untuk jamaat gereja seluruh Indonesia. Setiap tahunnya biasanya pesan, namun selama pandemi belum pesan," jelasnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (29/9/2021).
Selain untuk gereja, batik buatan Rini itu juga pernah diborong oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dan istinya saat melakukan kunjungan ke tokonya.
"Wali kota juga pernah, saat itu langsung diborong banyak," ujarnya.
Menurutnya, pakaian batik sekarang tak hanya dipakai ketika acara formal saja. Terbukti, banyak anak muda yang sekarang membeli batik di tempatnya dengan pilihhan motif yang lebih milenial.
"Ya selain para ASN dan anak sekolah, anak-anak muda juga pada cari. Biasanya cari warna yang tak mencolok atau halus," paparnya.
Baca Juga: Kasus PHK hingga Karyawan Unjuk Rasa, PT GS Battery Semarang Beri Penjelasan Lengkap
Dia menjelaskan, motif batik di Kota Semarang mempunyai ciri khas sendiri dibandingkan dengan motif batik yang ada di daerah lain seperti Pekalongan dan Batang.
Motif Batik Semarang mempunyai cerita, yang digambar adalah icon-icon Kota Semarang yang saatt ini masihh eksis seperti Tugu Muda, Gereja Belenduk dan Sam Poo Kong.
Meski demikian, dia mengaku para perajin di Kampung Batik Semarang sendiri sebagian besar mengandalkan para wisatawan yang masuk ke Kota Semarang untuk kemudian mampir ke kampung batik membeli oleh-oleh.
Namun sejak tahun 2020 lalu seiring dengan dibuka-tutupnya PPKM, menurutnya, para perajin dan pedagang kesulitan dalam memasarkan produk.
"Hal itu disebabkan karena tidak adanya wisatawan yang berkunjung ke Kota Lumpia tersebut," paparnya.
Di samping itu, kata dia, pihaknya yang semula juga mengandalkan instansi-instansi yang memesan batik untuk seragam, kini belum kembali seperti semula.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
Pilihan
-
Rumus Keliling Lingkaran Lengkap dengan 3 Contoh Soal Praktis
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
Terkini
-
5 Modus Korupsi Bupati Pati Sudewo, Peras Kades Demi Jabatan Perangkat Desa
-
Bukan LCGC! Ini 3 MPV Bekas Rp80 Jutaan Paling Nyaman dan Irit BBM, Dijamin Senyap di Tol
-
Usai OTT Bupati Sudewo, Pelayanan Publik di Kabupaten Pati Dipastikan Kondusif
-
Kunci Jawaban Matematika Kelas 4 Halaman 132: Panduan Belajar Efektif
-
Peringati HUT Ke-12, Semen Gresik Gelar SG Fun Run & Fun Walk di Area Greenbelt Pabrik Rembang