SuaraJawaTengah.id - Situasi politik di internal Partai Indonesia Demokrasi Perjuangan (PDIP) mulai memanas. Pemicunya tentu saja karena pendukung Ganjar Pranowo mulai muncul dan memberikan dukungan.
Terbaru, muncul sinisme politik Banteng Vs Celeng. Banteng adalah lambang dari PDIP. Sementara celeng adalah kader PDIP yang disebut membelot karena menyatakan mendukung Ganjar Pranowo sebagai capres 2024.
Suhu politik pun memanas. Istilah celeng itu muncul dari Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto yang langsung disambut kader yang ditunjuk. Tak berselang lama, para kader PDIP itu membuat logo celeng bertaring panjang dan menamainya sebagai Barisan Celeng Berjuang.
Pengamat menilai suhu politik di internal PDIP yang rawan memicu perpecahan partai merupakan dampak dari demokrasi terpimpin ala Megawati Soekarnoputri.
Menyadur dari Solopos.com, Direktur Eksekutif Indostrategic, Khoirul Umam, menilai kemunculan Barisan Celeng Berjuang sebagai perlawanan terhadap gaya demokrasi terpimpin yang dilakukan PDIP.
Umam menilai PDIP perlu menyerap masukan yang disampaikan kader.
“Sebagai partai yang menggunakan istilah demokrasi di namanya, PDIP seharusnya bersikap lebih demokratis. Jika memang benar berasal dari kader, logo Celeng Berjuang itu merupakan merupakan simbol perlawanan terhadap model kepemimpinan ala demokrasi terpimpin yang sebenarnya tidak ada dalam varian teori demokrasi manapun,” kata Umam kepada wartawan, Selasa (12/10/2021) malam.
Demokrasi terpimpin yang dimaksud Umam ialah tak dibukanya masukan dari kader.
Kader PDIP dipaksa untuk mengikuti keputusan elite, kata Umam, justru akan menimbulkan perpecahan.
Baca Juga: Fadli Padi Reborn ke Rumah Ganjar, Ini Tujuannya
“Tidak dibukanya ruang kebebasan berpendapat, di mana kader dipaksa tunduk pada keputusan elite, berpotensi menciptakan friksi yang tidak produktif,” ujarnya.
Watak Demokrasi
Menurut Umam, PDIP perlu mengembalikan watak demokrasi di dalam partai.
Sehingga perbedaan sikap kader dapat ditampung untuk ditimbang dalam mengambil keputusan.
“Karena itu, organisasi partai perlu mengembalikan watak demokratisnya untuk mengkanalisasi perbedaan pandangan dan sikap politik dalam sistem pengambilan keputusan di dalamnya,” ucapnya.
Lantas, apakah perlu PDIP memberikan sanksi terhadap kader yang menyuarakan Celeng Berjuang?
Berita Terkait
Terpopuler
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- 4 Sunscreen Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Tak Masuk Skuad Utama Persija, Kualitas Shayne Pattynama di Bawah Standar Shin Tae-yong
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Lebih dari Pendidik, Guru PAUD dan TK Diharapkan Jadi Teladan Pembentukan Karakter Anak
-
Menaker Apresiasi Program Magang Nasional BRI, Buka Peluang Karier bagi Talenta Muda
-
BRI Gandeng Prodia, Hadirkan Promo Medical Check-Up hingga Pemeriksaan Genomics
-
Kisah Cucur Aulia, UMKM Binaan RB Rembang yang Sukses Mengangkat Jajanan Tradisional
-
Semarang Diprakirakan Cerah Berawan, Hujan Berpotensi Turun Sore Nanti