SuaraJawaTengah.id - Suara gemuruh ombak terdengar di belakang tembok sekolah SD Bedono 1 Keamatan Sayung, Kabupaten Demak. Hampir setiap hari, pengajar dan anak didik di SD tersebut sudah terbiasa dengan hal itu.
Hingga pada suatu malam, handphone Wasiul maghfiroh seorang guru agama SD Bedono 1 Kecamatan Sayung Kabupaten Demak berdering menerima pesan WhatsApp dari group wali murid.
Setelah dia lihat, isi pesan tersebut ternyata foto dan video rumah-rumah warga yang kemasukan air rob di dekat tempat dia mengajar.
Hal itu sontak membuatnya tak bisa tidur, di bergegas menghubungi penjaga sekolah untuk melihat kondisi sekolah tempat dia mengajar di SD Bedono 1. Setelah beberapa menit menit Wasiul, akhirnya dia mendapatkan kabar butuk.
Ya, sekolah tempat dia mengajar juga ikut rusak oleh amukan air laut. Tembok gedung yang berbatasan langsung dengan bibir laut juga jebol tak kuasa menahan tekanan air laut.
Dari keseluruhan ruangan, kini hanya tersisa tiga ruangan yang saat itu juga ikut tenggelam karena posisinya lebih rendah dibandingkan dengan posisi halaman.
Sebenarnya, pihak sekolahan sudah beberapa kali meninggikan ruangan kelas agar tetap bisa digunakan untuk belajar, namun usaha tersebut seperti sia-sia.
Hampir setiap hari air rob memaksa untuk masuk ke dalam ruangan kelas. Dia sadar betul sekolah tersebut memang sudah tak layak digunakan untuk sarana pendidikan.
"Namun mau gimana lagi, " paparnya, Selasa (8/11/2021).
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Demak, Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa
Paginya dia dan beberapa guru yang lain melihat kondisi SD Bedono 1 Kabupaten Demak. Sesampainya di lokasi, dia benar-benar kaget. Banyak gendung yang rusak.
Selain itu, beberapa peralatan untuk mengajar seperi meja, kursi, papan tulis, buku dan beberapa berkas yang juga hanyut terseret ombak.
"berkas dan buku banyak yang hilang juga," katanya menceritakan.
Karena ruangan tak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran, akhirnya para siswa terpaksa belajar di luar ruangan.
Beberapa ada yang belajar di warung, dermaga dan lapangan. Padahal, saat itu para siswa sudah mendekati waktu untuk ujian sekolah.
"Kebetulan satu kelas hanya 15 siswa ya jadi bisa leluasa. Sambil melakukan pelajaran di luar ruangan, ruang kelas mulai diurug. Alhamdulillah saat itu para siswa bisa melakukan ujian," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
OTT Bupati Sudewo, Gerindra Jateng Dukung Penuh Penegakan Hukum dari KPK
-
Gebrakan Awal Tahun, Saloka Theme Park Gelar Saloka Mencari Musik Kolaborasi dengan Eross Candra
-
Deretan Kontroversi Kebijakan Bupati Pati Sudewo Sebelum Berakhir di Tangan KPK
-
OTT KPK di Pati: 6 Fakta Dugaan Jual Beli Jabatan yang Sudah Lama Dibisikkan Warga
-
7 Kontroversi Bupati Pati Sudewo Sebelum Kena OTT KPK, Pernah Picu Amarah Warga