SuaraJawaTengah.id - Balai Konservasi Borobudur (BKB) membuat aturan pengunjung yang akan naik ke struktur Candi Borobudur wajib mengenakan sandal khusus.
Pengikisan batuan Candi Borobudur akibat gesekan dengan alas kaki pengunjung, diperkirakan mencapai 0,4 milimeter per tahun. Dalam 10 tahun lantai candi diperkirakan terkikis 4 centimeter.
Kepala BKB, Wiwit Kasiyati mengatakan, aturan wajib memakai sandal khusus itu berdasarkan kajian yang telah dilakukan selama lebih dari 1 tahun. Kajian mencegah aus pada lantai candi pernah diuji coba menggunakan berbagai metode.
“Kami mempunyai grafik sejak 34 tahun yang lalu, bahwa keausan (lantai candi) itu meningkat. Setiap tahun meningkat meskipun tidak terlalu besar tapi grafiknya naik,” kata Wiwit Kasiyati, Selasa (18/1/2022).
Upaya melindungi lantai candi antara lain dengan mengaplikasikan material pelapis lantai berbahan kayu dan karet. Uji coba metode tersebut tidak dilanjutkan karena dianggap tidak memenuhi standar keamanan dan kenyamanan pengunjung.
“Terakhir kali kami angkat lagi kajian itu (penggunaan sandal khusus). Kami fokuskan sampai tingkat kenyamanan dan keamanan pengunjung. Juga kalau bisa sandal itu sebagai souvenir,” ujar Wiwit.
Model sandal khusus kemudian mengerucut pada bentuk sandal upanat yang terpahat di panel 150 relief Karmawibhangga. Relief menggambarkan seseorang memberikan persembahan sandal yang bentuknya kemudian diadaptasi menjadi sandal upanat.
“Kami memilih upanat karena ada di relief Karmawibhangga nomer panel 150. Disitu ada persembahan alas kaki, bentuknya seperti upanat yang dipakai Pak Sandi (Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata)," paparnya.
Pembuatan sandal upanat dipercayakan kepada Basiyo (57 tahun), perajin asal Dusun Bumisegoro, Desa Borobudur. Dia dipilih mengerjakan sandal upanat setelah melalui seleksi yang dilakukan BKB sejak tahun 2018.
Baca Juga: Potret Bupati Magelang Naik Motor Polisi Patroli Kawasan Candi Borobudur
Menurut Basiyo, workshop awal pembuatan sandal upanat diikuti oleh 40 warga mewakili 20 balkondes se-Kecamatan Borobudur. Design hasil workshop kemudian menjadi wujud akhir sandal upanat.
Menurut Basiyo, bahan sandal upanat diambil dari bahan alami yang tersedia di sekitar kawasan Borobudur.
“Dari bahan pandan dan mendong. Semua ada di sekitar bukit Menoreh sini. Kemudian jepit sandal dari batok kelapa, juga banyak di sekitar sini," tegas dia.
Sandal upanat dibuat dari anyaman daun pandan dan mendong. Bahan anyaman kemudian diberi alas sponge epa, bahan alas sepatu yang lebih keras dari busa namun lebih lembut dibandingkan karet.
“Kalau pakai sandal seperti ini kan sehat karena menyerap keringat. Kalau sandal dari plastik pasti nanti pegal-pegal di kaki. Dipakai enak dan nggak gampang capek. Juga ramah lingkungan,” kata Basiyo.
Nantinya pengelola Borobudur akan memberlakukan harga tiket berbeda untuk pengunjung yang naik ke struktur Candi Borobudur atau sekadar di pelataran.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 5 Sepatu Saucony Paling Nyaman untuk Long Run, Kualitas Jempolan
Pilihan
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
Terkini
-
Usai OTT Bupati Sudewo, Pelayanan Publik di Kabupaten Pati Dipastikan Kondusif
-
Kunci Jawaban Matematika Kelas 4 Halaman 132: Panduan Belajar Efektif
-
Peringati HUT Ke-12, Semen Gresik Gelar SG Fun Run & Fun Walk di Area Greenbelt Pabrik Rembang
-
5 Fakta Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat Desa di Pati yang Menjerat Bupati Sudewo
-
OTT Bupati Sudewo, Gerindra Jateng Dukung Penuh Penegakan Hukum dari KPK