SuaraJawaTengah.id - Sepak bola memiliki banyak manfaat untuk anak-anak.
Ketua Ikatan Psikolog Klinis Wilayah DKI Jakarta Anna Surti Ariani mengatakan, manfaat utama itu salah satunya mengembangkan motorik dan berpikir strategis.
"Mulai dari koordinasi motoriknya berkembang dan membangun kemampuan anak untuk berpikir strategis," ujar Anna dilansir dari ANTARA, Jumat (4/11/2022).
Anna menjelaskan dalam proses tumbuh kembang, ada dua hal penting yang dilatih ketika anak bermain sepakbola yakni kedisiplinan dan bekerjasama.
Saat bermain bola, khususnya yang mengembangkan hobi tersebut secara profesional, anak dituntut untuk selalu disiplin agar bisa meningkatkan kemampuan. Berlatih tiap hari, pantang menyerah dan tekun untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Selain itu, bermain bola pada anak juga dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi, membaca situasi dan berpikir untuk menyelesaikan masalah serta mencari strategi.
Menurut Anna, seluruh kemampuan tersebut akan berguna di masa mendatang meski tidak menjadi pemain bola profesional.
"Dari situ dia bisa percaya bahwa untuk mencapai sesuatu harus ada kerjasama tim, berbagi komunikasi, kesempatan dan tugas. Kita butuh kerjasama untuk berbagai kegiatan kehidupan masyarakat dan itu bisa dikembangkan lewat sepakbola," kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.
Lebih lanjut, psikolog klinis itu mengatakan bermain sepakbola juga dapat membuat anak belajar hal baru dari rekan sepermainannya.
Baca Juga: Bikin Heboh, Tsania Marwa Pamer Foto Buku Nikah
Tak hanya itu, dalam sebuah permainan bola anak akan saling mengingatkan untuk tidak melakukan kesalahan. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung dapat membantu anak untuk menyebarkan kebaikan.
"Ini yang dibilang peer to peer learning. Ini bagus banget untuk perilaku yang baik. Ketika anak-anak udah punya kebiasaan itu, mereka bisa jadi agent of change," katanya.
Anna juga mengatakan kebiasaan baik harus diterapkan kepada anak sedini mungkin. Menurutnya, efek tersebut akan terlibat saat anak mulai beranjak dewasa.
"Segala pembentukan kebiasaan memang harus dimulai dari dini. Kalau baru diajarkan saat dewasa, efeknya tidak akan terbentuk dan apa yang diajarkan menumpuk begitu saja.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Ribuan Pelari Siap Tumpah di Semarang, AHY Run Jateng 2026 Targetkan 5.000 Peserta
-
Mooncake Festival 2026 Jadi Ruang Akulturasi Budaya di Semarang
-
Rayakan Pestapora 2026 Bareng BRImo, Ada Cashback dan Keseruan di Booth BRI
-
Bupati Gowa Jadi Tersangka Dugaan Korupsi PBG, Kuasa Hukum Langsung Laporkan Penyidik
-
Mooncake Festival Dorong Pecinan Semarang Jadi Ruang Budaya yang Hidup