SuaraJawaTengah.id - Pekerjaan sopir mobil jenazah bukan untuk mereka yang bernyali ciut. Bertugas memandu jalan, mengantar jenazah pulang.
Mardan tidak pernah bercita-cita menjadi sopir mobil jenazah. Tikungan hidup menggiring lelaki berusia 49 tahun ini melakoni kerja yang dekat dengan hal-hal seram.
Menyopiri mobil jenazah milik PCNU Kabupaten Magelang sejak tahun 2019, Mardan mungkin lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan orang mati dibanding dengan yang hidup.
“Kalau hanya mendengar suara-suara aneh dari belakang (mobil jenazah), sering banget. Saya sudah kebal,” kata Mardan.
Berbeda saat dulu, kali pertama mendapat tugas mengantar jenazah terutama saat malam. Mardan masih sering merasakan bulu kuduknya meremang.
Malam itu sekitar pukul 21.00 WIB, dia mendapat tugas mengantar jenazah dari RSU Tidar ke rumah duka di salah satu desa di Kecamatan Dukun.
Tidak ada kejadian aneh selama perjalan mengantar jenazah. Tapi dalam perjalanan pulang ke Grabag, Mardan merasakan keanehan.
“Saya pulang ke rumah pukul 12 malam. Itu di jalan Giri, lewat Cokro kok tiba-tiba di dalam mobil itu ada suara ‘kletek..kletek..’ Saya takut. Senter kepala saya balik ke belakang. Biar kelihatan kabin belakang. Biar terang,” kata Mardan mengingat pengalaman pertamanya mengantar jenazah.
Kejadian serupa juga dialami Mardan saat mengantar jenazah - lagi-lagi - ke daerah Dukun. Kebetulan dia menyopiri mobil sendirian tanpa didampingi kru.
Baca Juga: Pasca Guguran Lava Pijar di Jumat Pagi, Aktivitas Gunung Merapi Malam Ini Tetap Tinggi
Berangkat dari RS Sardjito, Yogyakarta, Mardan tiba di sekitar Dukun pukul 01.00 WIB. Sialnya, rumah duka yang ditujunya berada di pucuk gunung yang lumayan terpencil.
Melewati areal perkebunan yang sepi, dari sepion tengah Mardan melihat jenazah yang sudah dikafankan dan dibaringkan di brankar seolah-olah bangun terduduk.
Padahal sebelumnya jenazah sudah beres dimandikan dari RS, sehingga tinggal dimakamkan. Mardan memang lupa membawa keranda penutup, sehingga mayat hanya diikat pada brankar dan diselimuti kain.
“Kelihatan dari spion itu (jenazah) bangun. Saya minggir, saya bilang ‘saya mau mengantar jenengan pulang. Jangan diganggu. Kalau mengganggu saya tinggal di sini kamu’.”
Ancaman Mardan ternyata manjur. Sisa perjalanannya menuju rumah duka berlangsung lancar tanpa gangguan.
Tidak hanya mengantar mayat di seputaran Magelang, Mardan sering mendapat tugas hingga jauh ke luar kota hingga Sumatera.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
Terkini
-
Raih Predikat Prestisius Golden Medal 2026, Semen Gresik Pertahankan Bintang Lima TOP GRC
-
Pelabuhan Tanjung Emas Didorong Naik Kelas Jadi Gerbang Utama Ekspor-Impor
-
Kalah dari Persita, Fabio Lefundes: Java United FC Masih Berproses
-
Ketika Al-Qur'an Satukan Semua Golongan: Cerita Dibalik Megahnya MTQ Nasional di Jateng
-
Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin