Wilayah pesisir Kota Semarang tidak dapat dipungkiri berada dalam ancaman tenggelam. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan oleh Geophysical Research Letters, Semarang diurutan kedua di dunia sebagai kota yang paling cepat tenggelam.
Dalam penelitian itu menyebutkan banyak faktor yang mempengaruhi Kota Semarang akan tenggelam diantaranya penurunan muka tanah setiap tahun rata-rata 3,96, penggunaan air tanah secara masif, beban industri, serta perencanaan tata kota yang kurang baik.
Aktivis lingkungan, Iqbal Alma Ghosan Altofani tidak kaget ketika mendengar hasil riset tersebut. Kompleksnya permasalahan di pesisir utara Kota Semarang bakal berujung malapetaka.
"Akar permasalahan adalah pemerintah, karena wilayah-wilayah pesisir ditetapkan oleh mereka untuk industri. Kita tau kalau industri penyebab utama ekstraksi air tanah besar-besaran," kata Iqbal.
Di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat (23/6), Iqbal bersama kawan-kawannya yang peduli lingkungan mengingatkan pemerintah dengan cara membawa lukisan dan foto yang menggambarkan kondisi pesisir utara Semarang, Demak dan Pekalongan yang terancam tenggelam.
"Kami merasa kondisi warga pesisir saat ini seperti dikejar air laut. Setiap tahun mereka harus menaikan rumah. Kalau tidak begitu, mereka harus ikhlas tempat tinggal mereka tenggelam," imbuhnya.
Lelaki yang aktif di Wahana Lingkungan Hidup Jawa Tengah (Walhi Jateng) mempertanyakan kebijakan pemerintah yang bakal menambah industri baru di pesisir utara Semarang.
"Kenapa beban-beban industri masih diletakkan di pesisir? Pengelolaan air tanah juga tidak jelas. Bahkan data mengenai air tanah saja mereka tidak punya," tegas Iqbal.
Sedangkan menurut Pakar Lingkungan dan Tata Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unisulla) Milla Karmila, menilai pola-pola pembangunan di wilayah pesisir yang tidak ramah jadi penyebab penurunan muka tanah di Kota Semarang.
"Bisa jadi prediksi itu Semarang paling cepat tenggelam kedua di dunia itu meleset. Kalau kita melakukan rekontruksi sosial yang ramah terhadap lingkungan," ucap perempuan yang akrab disapa Milla via telpon, Rabu (21/6).
Namun jika pengambilan air bawah tanah di wilayah pesisir masih dilakukan besar-besaran. Semarang tenggelam tinggal menunggu waktu saja.
"Paling parah memang pengambilan air bawah tanah. Ketimbangan beban bangunan industri. Tapi selain itu bisa jadi ada pembangunan-pembangunan lain yang berdampak signifikan terhadap penurunan permukaan tanah," tutur Milla.
Terkait pembangunan tanggul laut, menurut pandangan Milla itu merupakan solusi jangka pendek. Untuk mencegah pesisir Semarang dari ancaman tenggelam harus memperbanyak rekayasa penanaman mangrove.
"Tapi perlu digaris bawahi tidak semua wilayah pesisir kita bisa ditanami mangrove. Kita harus melakukan penelitian terkait hal itu, apakah karena jenis mangrovenya atau karena apa," ucap Milla.
"Kalau pada akhirnya kita tidak bisa melawan air. Kita harus bersahabat dengan air. Artinya warga harus membangun rumah apung," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama