SuaraJawaTengah.id - Ditengah gegap gempita Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2023 di Kota Semarang, hari ini Minggu, (23/7). Anak-anak di Kota Lunpia masih dihantui kasus kekerasan seksual yang tergolong tinggi.
Berdasarkan data dari Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) mencatat angka kekerasan seksual di Kota Semarang dari tahun ke tahun terus meningkat.
"Tahun 2022 ada 15 kasus yang dilaporkan. Sedangkan untuk tahun 2023 sampai bulan Juni sudah ada 20 kasus," kata Direktur LBH Apik, Raden rara Ayu Hermawati Sasongko, saat dihubungi SuaraJawaTengah.id, Minggu (23/7/2023).
Menurut Rara, sangat sulit bagi anak-anak di seluruh pelosok negeri terbebas dari kasus kekerasan seksual. Jika pelaku tidak di hukum secara tegas.
"Ruang aman dan ketentuan hukum saat ini yang khususnya mengatur mengenai pemberdayaan dan perlindungan terhadap anak menjadi salah satu wujud terciptanya anak terbebas dari segala bentuk kekerasan seksual," imbuh Rara.
"Hal itu akan terwujud apabila ada sinergi dari keluarga, masyarakat, Aparat Penegak Hukum (APH), lingkungan pendidikan, dan pemerintah dalam pencegahan kekerasan seksual dan pelaku ditindak secara tegas, bukan melalui proses mediasi," tambahnya.
Selain itu, LBH Apik juga dalam rentang tahun 2022-2023 masih menemukan anak-anak di Kota Semarang yang jadi pengemis. Tak sedikit dari mereka yang tidur diemperan toko ketika malam hari.
"Momen Hari Anak Nasional 2023 harapannya bukan ajang untuk pesta. Tetapi sebagai cambuk Pemerintahan Kota Semarang untuk lebih baik dalam pemberdayaan dan perlindungan anak," tegasnya.
Fenomena Gunung Es
Sementara itu, Kepala Devisi Advokasi Kebijakan Legal Resources Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), Lenny Ristiyani memandang kasus kekerasan seksual pada anak seperti fenomena gunung es.
Lembaganya mencatat kasus kekerasan seksual pada anak di Jawa Tengah pada tahun 2022 kemarin cukup tinggi sampai 53 kasus, sedangkan satu tahun sebelumnya hanya 11 kasus.
"Kalau tahun (2023) ini sampai bulan Juni baru 9 kasus kekerasan seksual pada anak," papar perempuan yang akrab disapa Lenny tersebut.
Yang lebih memprihatinkan para pelaku kekerasan seksual rata-rata adalah orang terdekat korban diantaranya ayah kandung, ayah tiri, paman, guru, tokoh agama dan tidak sedikit orang yang tidak dikenal.
Selama menangani kasus kekerasan seksual pada anak. Diakui Lenny banyak sekali tantangannya jika ingin memproses pelaku melalui jalur hukum.
"Ada satu kasus yang justru mandek karena alasan pelaku sudah tua. Padahal kami punya bukti kuat untuk memproses hukum pelaku," herannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun
-
Dugaan Tabrak Lari di Bantul, Pengemudi Mobil Ditangkap Warga Usai Hantam Pemotor Hingga Tewas
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan