SuaraJawaTengah.id - Mendekati hari pencoblosan yang tinggal beberapa minggu lagi. Para calon legislatif (caleg) di Kota Semarang melakukan berbagai cara untuk memenangkan pemilihan umum (pemilu).
Salah satu caranya mereka mendatangi rumah ibadah. Klenteng Tay Kak Sie yang berlokasi di Gang Lombok Nomor 62 Kelurahan Kauman jadi jujugan para caleg semasa musim kampanye.
Diakui Kepala Operasional Klenteng Tay Kak Sie, Andre Wahyudi membenarkan banyak caleg yang silih berganti memanjat doa memohon bantuan para dewa supaya disukseskan dalam mengikuti kontestasi lima tahun tersebut.
Andre begitu panggilan akrabnya tidak melarang caleg yang berdoa di Klenteng Tay Kak Sie. Namun tidak akan tegas menolak jika rumah ibadah orang-orang Tionghoa dijadikan media berkampanye.
"Saya nggak bisa bantu promosi karena ada larangan Klenteng tidak boleh untuk kampanye. Kalau mau datang, silahkan asal tidak membawa atribut partai," ucap Andre pada Suara.com, Kamis (25/1/24).
Dilanjutkan Andre, para caleg yag datang ke Klenteng Tay Kak Sei tidak hanya yang berasal dari agama Konghucu. Melainkan dari berbagai agama lainnya.
"Mereka (caleg) datang secara personal minta dibantu didoakan supaya sukses dalam pileg tahun ini," ujarnya.
Dari tahun ke tahun, Andre turut senang dengan banyaknya etnis Tionghoa di Indonesia yang melek politik. Ini dibuktikan dengan banyaknya mereka yang jadi caleg baik ditingkat kota/kabupaten, provinsi hingga provinsi.
Namun sejauh ini mereka yang sudah terpilih di parlementer dikatakan Andre belum terlalu memberikan dampak yang signifikan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.
Baca Juga: Caleg Gagal Berpotensi Alami Gangguan Mental, Ini Penjelasan Psikiater
Ia kemudian berpesan pada mereka yang sudah jadi anggota DPR maupun yang belum terpilih untuk tidak sekedar menebar janji. Para caleg harus tetap memperjuangkan suara-suara rakyat di bawah.
"Semoga mereka yang nanti terpilih jangan suka sok sibuk di parlemen. Tetap ingat yang dibawah," harapnya.
Budaya Politik
Setiap musim pemilu para politisi di Indonesia sering kali mendadak jadi rajin berziarah kubur ke makam ulama, datang ke dukun hingga mengunjungi tempat-tempat ibadah.
Rupanya fenomena lima tahunan itu sudah menjadi budaya yang mengakar dan sudah sejak dulu. Pengamat Politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Wahid Abdulrahman tidak mengetahui secara pasti kapan hal tersebut jadi sebuah budaya.
"Politik budaya seperti ziarah kubur jelang pemilu itu sudah berlangsung sejak lama," kata lelaki yang akrab disapa Wahid.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
Terkini
-
6 Fakta Pembubaran Kegiatan Pemuda Ahmadiyah
-
Polisi Bubarkan Perkemahan Pemuda Ahmadiyah, Jubir JAI: Itu Cuma Camping Anak-Anak dan Olahraga
-
Musim Kemarau Sudah Dekat, BMKG Beri Peringatan Hujan Masih akan Mengguyur Wilayah Jateng
-
Apresiasi Ombudsman Jateng, YPAI biMBA AIUEO: Keadilan untuk Rumah Baca Purbalingga Terwujud
-
Predator Dana Hari Tua: Eks Pegawai Bank Tipu 60 Pensiunan di Purwokerto Lewat Investasi Bodong