SuaraJawaTengah.id - Lagu 'Ibu Kita Kartini' terdengar lirih saat saya menjejaki lorong kelas SDN 'Kartini' Sarirejo. Sekolah yang terletak di Jalan RA Kartini, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur ini adalah saksi sejarah kegigihan tokoh emansipasi wanita asal Jepara.
Jika diperhatikan secara sekilas, terdapat sebuah perbedaan arsitektur bangunan di area sekolah tersebut. Bangunan yang menghadap ke selatan nampak gedung tua berdinding kayu. Sementara bangunan sekolah lainnya yang berada di sisi barat dan timur nampak lebih modern.
Bangunan sekolah yang menghadap ke Jalan RA Kartini itu adalah cagar budaya. SDN Sarirejo Semarang ini dulunya salah satu sekolah perempuan pertama yang didirikan oleh sebuah yayasan karena terinspirasi dengan pemikiran RA Kartini dalam memperjuangkan keseteraan untuk kaum perempuan.
"Sekitar tahun 1992 gedung sekolah dan ruangan kepala sekolah menghadap ke arah Jalan Dr. Cipto," ucap seorang guru senior SDN Sarirejo, Suwarni saat ditemui Suara.com, Rabu (17/4/24).
Berdasarkan sejarah saat pertama kali dibuka tanggal 11 Januari 1915, sekolah ini terletak di Jalan Karreweg (sekarang Jalan Dr. Cipto). Sekolah Kartini dulu bersebelahan dengan Inlandsche Ambachtschool (sekarang SMKN 2 Semarang).
Dana untuk membangun sekolah ini dulu berasal dari penjualan surat-surat RA Kartini dan buku-buku adik kandung RA Kardinah. Yayasan Abendanon dan Deventer atau Perhimpunan Kartini Hindia Belanda yang jadi motor penggerak terwujudnya sekolah wanita pertama di Kota Semarang.
"Jadi ruang kelas 6 sampai gedung paling ujung aula nggak boleh diubah karena udah jadi cagar budaya," paparnya.
Selain ruang kelas dan aula yang merupakan sisa-sisa peninggalan sejarah yang masih bisa ditemui. SDN Sarirejo juga masih menyimpan buku berbahasa belanda. Buku itu diduga kuat berisikan sejarah panduan kurikulum sekolah SDN Sarirejo di masa kolonial Belanda.
Namun, Suwarni tidak mengetahui secara detail soal transisi bagaimana sekolah wanita ini bisa bertransformasi menjadi sekolah umum. Sekitar tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia, sekolah ini ikut terdampak dan sempat vakum beberapa tahun.
Baca Juga: Semarang dan Sekitarnya Berpotensi Diguyur Hujan pada Selasa 16 April 2024, Ini Penjelasan BMKG
Disinyalir pasca kemerdekaan Indonesia, pemerintah daerah setempat mengakusisi dan mengubah konsep sekolah. Sampai hari ini sekolah peninggalan kolonial Belanda tersebut terdaftar sebagai 'sekolah negeri'.
"Waktu dulu sekolah ini masih sering dikunjungi orang-orang Belanda. Kalau ada tamu dari sana, kita menyambut mereka dengan gamelan dan penampilan seni dari siswa-siswi," ujarnya.
Karena sekolah SDN Sarirejo ini memiliki sejarah panjang terhadap sosok R.A Kartini. Setiap tanggal 21 April, sekolah ini rutin mengadakan acara untuk mengenang dan mereflesikan sosok tokoh yang sangat berjasa terhadap kaum perempuan.
Masih dijelaskan Suwarni, pihak sekolah saat ini sedang berusaha mengembalikan atau memasukkan sedikit kurikulum yang pernah diajarkan sekolah Kartini dulu.
"Setiap hari Jumat itu kita selalu mengenalkan sejarah riwayat R.A Kartini, visi dan missi beliau, dan tentang sekolah ini secara keseluruhan," terangnya.
Adapun kurikulum sekolah Kartini dulu sepengetahuan Suwarni lebih fokus pada keterampilan seperti menjahit, menyulam, hingga membatik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Kembangkan Potensi Alam, Potret Desa Karangjengkol Purbalingga Raih Indonesia Awards 2026
-
Sempat Dihalangi Dampingi Puluhan Massa Aksi di Polda DIY, 34 Orang Akhirnya Dipulangkan
-
5.040 Bendahara Koperasi Merah Putih Dilatih, Seberapa Siap Kelola Dana dan Bisnis Desa?
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Kebijakan Pengupahan Lindungi Pekerja Tanpa Matikan Usaha
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran