SuaraJawaTengah.id - Sekali ini, keyakinan bahwa menikah di bulan Jumadil Akhir membawa hoki, malah berakibat sebaliknya. Efek ramalan primbon tak akur dengan ramalan cuaca.
Kebanyakan orang Jawa mempercayai primbon yang menyebut empat “bulan baik”: Jumadil Akhir, Besar (Dzulhijjah), Ruwah (Sya’ban), dan Rajab, sebagai waktu yang tepat untuk menggelar pernikahan.
Mereka antep bahwa mengadakan pernikahan pada bulan-bulan itu akan membawa berkah kepada mempelai, berupa harta, kebahagiaan, dan keharmonisan rumah tangga.
Tapi kali ini primbon menyelisihi prakiraan cuaca. Jumadil Akhir yang jatuh pada akhir tahun 2024, berada tepat di masa puncak tengkujuh. Hampir setiap hari hujan deras turun di sebagian besar wilayah Jawa Tengah.
Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang memprediksi hujan dengan intesitas sedang hingga lebat mengguyur Wonosobo, Boyolali, Klaten, dan Sragen. Hujan merata meski ada beberapa kabupaten yang hanya kebagian gerimis.
Pada pertengahan Desember, banjir rob bahkan merendam Desa Blendung di Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Daerah itu sedikitnya 3 kali dilanda banjir sepanjang tahun lalu.
Bencana di Kebun Melati
Banjir di Ulujami terasa dampaknya hingga Magelang. Utamanya terhadap para perajin roncean melati yang umumnya kebanjiran pesanan selama musim nikah bulan Jumadil Akhir dan Rajab.
“Kebun melati di Pemalang pada banjir. Kalau tanamannya terendam air setiap hari, bunganya jadi busuk,” kata Debby, salah seorang perajin roncean melati di Desa Ngawen, Muntilan, Magelang.
Baca Juga: Semarang Berpotensi Diguyur Hujan Ringan, Warga Diminta Siaga
Kecamatan Ulujami, Pemalang terkenal sebagai daerah penghasil melati kualitas baik. Selain dijual ke pabrik teh di Slawi, melati juga juga dikirim sampai ke India.
Konon kualitas melati Ulujami lebih bagus dibanding hasil panen di negara Bollywood itu sendiri. Suatu pujian, mengingat India sebagai penghasil jenis teh hitam yang melegenda: Darjeeling.
Gagal panen ditengah membludaknya jumlah permintaan, menyebabkan harga melati terbang tinggi. Hingga menjelang tahun baru kemarin, harga melati kuncup menyentuh Rp600 ribu per kilogram.
“Padahal kalau sedang ramai pesanan seperti sekarang, kita bisa pakai sehari sekitar 15 kilogram. ‘Bunyi’ juga kan harganya. Lagian kalau banyak kena hujan, banyak bunga yang afkiran (tidak terpakai).”
Setiap hari Debby memesan melati dari Pemalang yang dikirim menggunakan jasa ekspedisi. Begitu datang, melati harus secepat itu dirangkai.
Jika disimpan lama, bunga berisiko rusak atau telanjur mekar. Padahal melati yang bisa dipakai untuk roncean rias pengantin hanya yang masih dalam kondisi kuncup.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wakil Ketua MK Ingatkan Bahaya AI: Jangan Sampai Mematikan Kemampuan Berpikir Kritis
-
Heboh Dugaan Kekerasan Seksual Anak di Pati, Bapak dan Kakak Tiri Jadi Pelaku
-
Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR
-
Bukan Sekadar Pintar, Ini Tantangan Terberat Pemimpin Muda di Era Digital Menurut Gus Yasin