Setahun kemudian, sekolah Kou Yu dipindah ke belakang kompleks Klenteng Hok An Kiong. Namanya berubah menjadi Tiong Hwa Hak Hauw.
“Tiong Hwa Hak Hauw dulu ada kontestasi dengan Hollandsch Chineesch School (HCS). Sekolah Tionghoa berbahasa Eropa itu rebutan anak-anak (murid) Tionghoa,” kata Astrid.
Tiong Hwa Hak Hauw semakin maju setelah Hollandsch Chineesch School ditutup tahun 1942. Semua muridnya eksodus ke Tiong Hwa Hak Hauw.
Tapi nasib serupa dialami Tiong Hwa Hak Hauw tahun 1959. Pemerintah mengharuskan seluruh sekolah di-nasionalisasi karena tidak boleh ada “sekolah asing” di wilayah Kawedanan (Muntilan). Tiong Hwa Hak Hauw kemudian berubah menjadi Sekolah Rakyat Setia Dharma.
“Sayangnya sekitar tahun 1965 sekolah ditutup. Menurut beberapa informan saya yang juga dulu sekolah di Sekolah Rakyat Setia Dharma, (murid-muridnya) dipindahan ke sekolah-sekolah lain.”
Digitalisasi Buku Tionghoa
Perpustakaan di Klenteng Hok An Kiong adalah warisan dari sekolah Tiong Hwa Hak Hauw. Tapi Astrid tidak dapat memastikan berapa jumlah koleksi buku yang asli milik sekolah.
Banyak ditemukan buku pendidikan dan bahasa Indonesia untuk sekolah Tionghoa, selain buku-buku ajaran Konghucu, Taoisme, dan Buddha. Tapi ada juga koleksi bundelan majalah umum seperti Tempo dan Intisari.
“Buku-buku di klenteng ini banyak donasi di tahun 1980-an. Kami tidak bisa memastikan buku mana yang sudah ada sejak sekolah, dan mana buku yang muncul ketika donasi (1980-an).”
Baca Juga: Praktik Prostitusi di Gunung Kemukus Sragen Terungkap, Ritual Seks Hidup Lagi?
Sejak tahun 2023, Astrid terlibat dalam proyek Modern Endangered Archive Program. Upaya digitalisasi buku-buku yang dianggap hampir punah, terutama yang berhubungan dengan ajaran Tri Dharma: Buddhisme, Taoisme, dan Konghucu.
Program kerjasama Center for Religious & Cross-cultural Studies UGM dengan UCLA itu, menargetkan alih digital 10 ribu lembar buku.
“Saya berdua dengan Mas Revan ditarget 10 ribu lembar. Sejauh ini sudah sudah men-scan 200 judul buku. Yang lainnya belum kepegang sama sekali. Jadi (jumlah koleksi perpusatakaan) bisa jadi lebih dari 1.000 buku dari berbagai genre.”
Digitalisasi terutama untuk buku berbahasa Indonesia-Melayu yang diterbitkan sebelum tahun 1965. Koleksi buku paling tua yang berhasil dialih digital terbitan tahun 1920.
Astrid berasumsi ada buku yang berusia lebih tua, karena masih banyak buku berbahasa Tiongkok yang belum teridentifikasi. Satu rak besar kaca di ruang perpustakaan Klenteng Hok An Kiong, menampung ratusan buku beraksara Hanji.
“Terutama buku berbahasa Mandarin. Sayangnya itu baru asumsi karena kami tidak bisa bahasa Mandarin.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
-
Pelatih Al Nassr: Cristiano Ronaldo Resmi Tinggalkan Arab Saudi
Terkini
-
Naik Vespa, Taj Yasin Tinjau SPBU untuk Pastikan Ketersediaan BBM di Jateng Aman Jelang Lebaran
-
Waspada! BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca di Semarang, Potensi Hujan Lebat Disertai Petir
-
5 Fakta Mengejutkan Dibalik Video Viral Pengejaran Begal Payudara di Pati
-
BRI Semarang Tebar Berkah Ramadan, Berbagi Makanan Berbuka untuk Pengendara
-
BRI KPR Berikan Kemudahan Akses Pembiayaan untuk Wujudkan Rumah Impian