SuaraJawaTengah.id - Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2025 yang semestinya menjadi momen menyuarakan hak-hak kaum pekerja ternoda oleh tindakan anarkis yang terjadi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis 1 Mei 2025 lalu.
Aksi kekerasan yang ditengarai dilakukan kelompok terafiliasi Anarko tak hanya mencederai semangat damai buruh, tapi juga menciptakan kekhawatiran tentang adanya upaya sistematis membajak narasi perjuangan.
Akademisi hukum Dr. Carto Nuryanto, MM, MH, mengungkapkan keprihatinannya atas insiden tersebut.
Ia mengecam keras tindakan anarkis yang dilakukan sekelompok individu yang justru menunggangi aksi damai kaum buruh untuk agenda yang bertentangan dengan hukum dan nilai demokrasi.
"Kami sangat mengecam aksi kelompok Anarko yang melawan hukum. Tindakan anarkisme tersebut sangat menodai perjuangan kawan-kawan buruh yang tengah memperingati May Day," tegas Carto saat memberikan keterangan tertulis pada Sabtu 3 Mei 2025.
Menurut dosen IAIN Kudus tersebut, menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak setiap warga negara, namun harus tetap berlandaskan aturan hukum yang berlaku.
Hal itu telah diatur secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
"Setiap masyarakat, elemen masyarakat, aktivis, kaum intelektual jika ingin menyampaikan pendapat perlu mematuhi pedoman UU No 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum," lanjut Carto.
Ia menegaskan bahwa tindakan anarkisme yang dilakukan secara sadar dan melanggar hukum tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Inisiasi Koperasi sebagai Solusi Ekonomi Buruh Jateng
Perlu ada penegakan hukum yang tegas sesuai dengan ketentuan pidana, termasuk berdasarkan bukti yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP.
"Kami sangat memahami bahwa aksi unjuk rasa dan penyampaian pendapat menjadi bagian penting dalam proses demokrasi. Untuk itulah peserta aksi demo wajib mematuhi peraturan yang ada, agar pelaksanaan May Day ini bisa digunakan sebaik-baiknya para buruh untuk menyuarakan aspirasinya," tambahnya.
Namun, kenyataannya, aksi damai tersebut justru dicemari oleh sekelompok oknum berpakaian serba hitam yang memancing kerusuhan dan bahkan menyerang aparat keamanan.
"Namun tiba-tiba muncul kelompok Anarko yang melakukan aksi anarkis, bahkan menyerang dan melukai aparat yang ada, saya kira itu bukan cara berdemokrasi yang baik," tegas Carto.
Polrestabes Semarang membenarkan bahwa kerusuhan tersebut tidak terjadi secara spontan.
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol. M. Syahduddi, menyampaikan bahwa sehari sebelum kejadian, kelompok pelaku sempat menggelar rapat konsolidasi tertutup di salah satu ruang kampus di Kota Semarang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Sempat Dihalangi Dampingi Puluhan Massa Aksi di Polda DIY, 34 Orang Akhirnya Dipulangkan
-
5.040 Bendahara Koperasi Merah Putih Dilatih, Seberapa Siap Kelola Dana dan Bisnis Desa?
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Kebijakan Pengupahan Lindungi Pekerja Tanpa Matikan Usaha
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet