Ketua Panitia Festival Lampion Waisak 2569 BE, Fatmawati menyebutkan, tema festival tahun ini adalah “Light of Peace 2025”.
“Peserta datang dari beragam latar belakang dengan tujuan ikut merasakan kesakralan prosesi Waisak. Menjadi momentum untuk merenung dan merasakan kedamaian sejati lahir dari dalam diri.”
Festival lampion dalam tradisi Waisak tidak terlepas dari tradisi serupa yang dikenal di Tiongkok sejak berabad-abad lampau. Biasanya tradisi terkait api lampion, dihubungkan dengan naga sebagai makhluk mitologi.
Pada masa kejayaan dinasti Shang dan Zhou (abad ke-16 hingga ke-9 SM) karakter naga ditemukan pada perhiasan perunggu dan giok. Unsur naga sering muncul menghias dinding makam abad ke-2 SM, bertepatan dengan masuknya agama Buddha di Tiongkok.
Makhluk-makhluk pra-Buddha menyerupai naga sudah dikenal di India sekitar 500 SM. Cerita naga kemudian masuk dalam mitologi agama Buddha.
Para naga diceritakan termasuk diantara delapan kelas dewa yang menyembah dan melindungi Buddha. Setelah Buddha (Siddhartha Guatama) mencapai pencerahan, raja naga Mucilinda melindungi Siddhartha dari angin dan hujan selama tujuh hari.
Penggambaran ini sering ditemukan pada lukisan-lukisan Buddha kuno dari India. Digambarkan sosok Buddha duduk di bawah tudung dan lilitan Mucilinda.
“Api dari raja naga itu yang hingga kini diabadikan menjadi festival lampion. Raja naga terkesan dengan perbuatan baik yang diajarkan oleh Sang Buddha,” ujar Fatmawati.
Kampung Medang
Baca Juga: Ombudsman Nilai Pemadanan Data Pedagang SKMB Sudah Transparan dan Sesuai Prosedur
Harus diingat, keberadaan Candi Borobudur tidak lepas dari peradaban masyarakat Mataram Kuno. Pada prasasti Canggal yang berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi, nama Sanjaya diabadikan.
Prasasti yang ditemukan di pelataran Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam itu, mencatatkan bukti awal perkembangan Mataram Kuno.
Lima puluh tahun kemudian, sejarah mencatat dimulainya pembangunan Candi Borobudur. Pembangunannya semasa dengan periode kekuasaan Raja Sriwijaya, Samaratungga (782-812 Masehi).
Arsitekturnya yang kolosal, dengan relief detail pada dinding Borobudur, menunjukkan bahwa masyarakat yang membangun dan menempati wilayah itu sudah memiliki pengetahuan maju.
Pada rangkaian perayaan Waisak, peradaban masayarakat Mataram Kuno itu divisualisasikan melalui Pasar Medang. Menghadirkan 60 UMKM yang mengajak pengunjung menikmati kuliner dan mengagumi kerajinan kriya lokal.
Menurut Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, Pasar Medang berusaha menghadirkan suasana pasar pada masa Mataram Kuno. Meskipun penggambarannya belum dalam skala presisi sejarah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Sadis! Rampok Ponsel Tebas Telinga Korban hingga Nyaris Putus di Semarang
-
Bripka EJ Mubaligh Polres Wongiri Tersangka Kekerasan Seksual, Terancam Sanksi Kode Etik Pemecatan
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja
-
Musim Kemarau di Jateng Datang, Pendaki Gunung Diminta Tak Nyalakan Api Sembarangan