SuaraJawaTengah.id - Upaya Polda Jawa Tengah dalam memberantas praktik premanisme yang membungkus diri dalam organisasi kemasyarakatan (ormas) membuahkan hasil.
Tim Satgas Penegakan Hukum Operasi Aman Candi 2025 berhasil menangkap Ketua Pemuda Pancasila Blora berinisial MJ (44) yang diduga kuat terlibat dalam kasus penipuan pengadaan solar industri fiktif.
Penangkapan dilakukan pada Sabtu, 17 Mei 2025 oleh tim gabungan Satgas Gakkum Operasi Aman Candi 2025.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol. Dwi Subagio mengungkapkan bahwa tindakan ini merupakan bentuk komitmen kepolisian dalam menindak segala bentuk premanisme, terutama yang dilakukan oleh oknum berlindung di balik atribut ormas.
"Ini bagian dari upaya kami membersihkan ruang publik dari praktik premanisme berkedok ormas atau profesi. Siapa pun yang merugikan masyarakat akan kami tindak tegas sesuai hukum," tegas Kombes Dwi saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Senin (19/5/2025).
MJ, yang dikenal dengan panggilan Mbah Mun, tidak sendiri. Polisi juga menangkap seorang wanita berinisial WH (45) asal Todanan, Blora.
Keduanya diduga terlibat dalam kasus penipuan terhadap warga Kradenan, Blora, berinisial WA, dengan kerugian yang mencapai lebih dari Rp333 juta.
Kombes Dwi menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari laporan korban yang masuk ke kepolisian pada 11 Mei 2025. Korban mengaku telah dijanjikan kerja sama bisnis pengadaan solar industri oleh pelaku.
Modusnya, MJ mengaku sebagai Humas sebuah perusahaan dan meyakinkan korban bahwa perusahaan tersebut mampu menyediakan solar industri.
Baca Juga: Produktivitas Sumur Tua Melejit, BUMD Blora Hasilkan 410.000 Liter Minyak!
“Padahal, perusahaan yang dimaksud sudah tidak beroperasi sejak 2022,” ujar Dwi.
Pelaku kemudian meminta korban untuk menyetor sejumlah uang sebagai deposit pengiriman solar yang dijanjikan akan datang dalam periode Agustus hingga September 2022. WH diduga turut berperan aktif membantu MJ dalam meyakinkan korban.
“Keduanya memberikan iming-iming dan janji palsu. Bahkan pelaku mengklaim punya jaringan dengan Komisaris perusahaan tersebut untuk memperkuat keyakinan korban,” tambah Dwi.
Dalam penggeledahan, penyidik menyita sejumlah barang bukti penting, termasuk surat perjanjian kerja sama, laporan transaksi keuangan, dan dokumen lainnya.
Pemeriksaan lanjutan juga mengungkap bahwa MJ merupakan residivis kasus penadahan, sementara WH diketahui pernah terlibat dalam kasus penggelapan.
Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan/atau Pasal 372 KUHP tentang penggelapan, dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Sadis! Rampok Ponsel Tebas Telinga Korban hingga Nyaris Putus di Semarang
-
Bripka EJ Mubaligh Polres Wongiri Tersangka Kekerasan Seksual, Terancam Sanksi Kode Etik Pemecatan
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja
-
Musim Kemarau di Jateng Datang, Pendaki Gunung Diminta Tak Nyalakan Api Sembarangan