SuaraJawaTengah.id - Fenomena cuaca yang tak menentu kian menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi masyarakat dan pemerintah daerah. Kemarau basah terjadi di Jawa Tengah.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, menyatakan pentingnya langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi fenomena kemarau basah yang saat ini melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Tengah.
Fenomena kemarau basah menjadi perhatian khusus karena membawa konsekuensi yang tak bisa diabaikan, baik dari sisi bencana alam maupun ancaman terhadap sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan.
Menurut Sarif, fenomena kemarau basah meski terjadi di musim kemarau, justru ditandai dengan curah hujan tinggi yang bisa memicu bencana hidrometeorologi.
“Pemerintah maupun masyarakat sebaiknya tidak terlena dengan istilah musim kemarau, karena cuaca masih sangat dinamis dan berpotensi menimbulkan risiko bencana hidrometeorologi walaupun mungkin tidak seekstrem saat terjadi di musim hujan,” ungkapnya di Semarang pada Selasa 17 Juni 2025.
Sarif menekankan bahwa ancaman dari kemarau basah mencakup banjir, longsor, hingga terganggunya sektor pertanian yang selama ini menjadi penopang ketahanan pangan di daerah.
Bahkan, dalam jangka panjang, fenomena ini dapat memberikan tekanan besar terhadap ketahanan pangan nasional jika tidak ditangani secara serius dan terencana.
“Fenomena kemarau basah adalah tantangan nyata yang harus dihadapi dengan perencanaan matang dan kerja sama lintas sektor,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri telah memprakirakan bahwa kondisi ini akan berlangsung hingga Agustus 2025.
Baca Juga: Musim Kemarau Datang, Jateng Gaspol Tanam Padi! Ini Strategi Gubernur Luthfi Atasi Kekeringan
Artinya, potensi gangguan terhadap sektor pertanian, infrastruktur, dan kesehatan masyarakat masih sangat mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi para petani, dampak kemarau basah bukan sekadar soal cuaca yang tak menentu. Perubahan pola curah hujan ini bisa menggagalkan rencana tanam yang sudah disusun, memperbesar risiko gagal panen, dan bahkan menimbulkan serangan hama akibat kelembaban yang tinggi.
Sarif mengingatkan bahwa adaptasi cepat dari para petani menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian.
“Hal ini tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga bisa memaksa petani untuk mengeluarkan biaya tambahan untuk pestisida dan pemupukan ulang. Akibatnya, biaya produksi meningkat, sementara hasil panen belum tentu sesuai harapan,” terangnya.
Ia pun mengingatkan bahwa ketahanan pangan nasional bisa terancam apabila para pelaku sektor pertanian tidak diberi informasi dan dukungan yang cukup untuk menyesuaikan pola tanam mereka.
Pemerintah daerah, menurutnya, perlu aktif dalam memberikan pendampingan kepada petani, termasuk melalui penyuluhan dan informasi dari BMKG. Agar tidak merugi pada musim panen mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah