SuaraJawaTengah.id - Sebuah peristiwa menyentuh hati terjadi di Desa Bermi, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, pada Jumat, 30 Mei 2025. Di tengah aktivitas pertanian warga yang umumnya berlangsung tenang, tiba-tiba kabar kehilangan sepeda motor milik seorang petani menyebar cepat dari mulut ke mulut.
Warga pun segera bergerak bersama mencari pelaku, berharap kendaraan itu bisa ditemukan sebelum dijual atau dibawa jauh.
Namun, pencarian tersebut justru berujung pada kenyataan yang membuat banyak pihak terdiam. Pelakunya ternyata bukanlah pencuri profesional atau pelaku kriminal berpengalaman, melainkan seorang anak di bawah umur yang dikenal masyarakat sekitar memiliki kondisi mental yang tidak stabil.
Bocah laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Kepada warga, dia mengaku hanya ingin merasakan sensasi mengendarai sepeda motor seperti anak-anak lainnya. Tidak ada niat menjual atau menyembunyikan, hanya keinginan sederhana yang berujung masalah.
Kejadian ini menjadi viral setelah dibagikan oleh akun Instagram @infokejadiandemak. Unggahan tersebut menunjukkan reaksi warga yang semula geram berubah menjadi haru saat mengetahui latar belakang si anak.
Motifnya pun jauh dari kriminal: ia hanya ingin merasakan sensasi mengendarai sepeda motor.
“Sebenarnya anak itu tidak sepenuhnya tahu kalau yang dia lakukan itu salah. Dia cuma pengin nyoba naik motor,” tulis akun tersebut.
Saat kejadian, anak itu ditemukan membawa sepeda motor milik petani ke luar desa. Warga kemudian mengamankannya tanpa melakukan kekerasan.
Yang membuat suasana makin mengharukan, anak tersebut menjawab pertanyaan warga dengan sopan, bahkan menggunakan bahasa Jawa halus meskipun terbata-bata.
Sebagai gantinya, sang pemilik motor mengantar langsung anak tersebut pulang ke rumahnya dan menyerahkannya kepada orang tuanya. Warga sekitar menyaksikan momen itu dengan haru, menyadari bahwa pendekatan kemanusiaan bisa menjadi jalan keluar yang lebih bermakna.
Peristiwa ini pun menjadi pengingat bahwa tidak semua pelanggaran harus dihadapi dengan kekerasan atau hukum yang kaku. Dalam kondisi tertentu, empati dan pembinaan bisa menjadi bentuk keadilan yang sesungguhnya.
Komentar Netizen: Empati Mengalir Deras
Kolom komentar unggahan di Instagram @infokejadiandemak dipenuhi berbagai respons yang mencerminkan dilema moral antara menegakkan hukum dan menjaga sisi kemanusiaan.
Salah satu akun mengapresiasi tindakan warga yang memilih untuk tidak melakukan kekerasan fisik. Ia menulis:
“Alhamdulillah rasa kemanusiaan di atasnya.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
-
7 Rekomendasi HP Baterai Jumbo Paling Murah di Bawah Rp3 Juta, Aman untuk Gaming
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
Terkini
-
Kunci Jawaban Matematika Kelas 4 Halaman 132: Panduan Belajar Efektif
-
Peringati HUT Ke-12, Semen Gresik Gelar SG Fun Run & Fun Walk di Area Greenbelt Pabrik Rembang
-
5 Fakta Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat Desa di Pati yang Menjerat Bupati Sudewo
-
OTT Bupati Sudewo, Gerindra Jateng Dukung Penuh Penegakan Hukum dari KPK
-
Gebrakan Awal Tahun, Saloka Theme Park Gelar Saloka Mencari Musik Kolaborasi dengan Eross Candra