SuaraJawaTengah.id - Agresi militer Belanda II menjadi salah satu momen kritis dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beberapa peristiwa penting terjadi selama kurun waktu yang pendek itu.
Tanggal 19 Desember 1948. Pukul 05.30, tiga pesawat North American B-25 Mitchell milik Belanda dari Skuadron 18, membuka serangan. Bom dijatuhkan tepat ke landas pacu lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta.
Serangan itu sekaligus mengumumkan bahwa Belanda resmi melancarkan agresi dengan sandi Operatie Krai—Operasi Gagak.
Pada salah satu perut B-25, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor memimpin komando.
Berselang satu jam, ia memerintahkan pesawat Dakota menerjunkan dua kompi pasukan lintas udara Korps Speciale Tropen (KST) yang kebanyakan diisi orang-orang Timor dan Ambon.
Sejak 16 Desember mereka bersiap di lapangan terbang Andir, Bandung untuk diterjunkan ke Yogyakarta.
Pada hari pertama penyerbuan, 2.600 pasukan dan 80 jip berhasil mendarat.
Selain menguasai lapangan terbang Maguwo, misi utama Operasi Gagak adalah menangkap Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, serta pejabat Republik Indonesia lainnya yang berkantor di Yogyakarta.
Akibat serangan tersebut, ibu kota negara dipindahkan ke Bukittinggi, Sumatra Barat.
Baca Juga: 14 Tahun Mencari Jalan Keluar, Sabrang Letto: Indonesia Terjebak 'Deadlock Stupidity''
Sjafruddin Prawiranegara memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Kantor Bupati di Pengungsian
Agresi militer Belanda II juga berdampak terhadap daerah-daerah di pinggiran Yogyakarta.
Kabupaten Magelang sempat beberapa kali memindahkan kantor pusat pemerintahannya ke tempat pengungsian.
Dari kantor pusat pemerintahan yang sekarang ditempati Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Bupati Magelang era 1946-1954, R Joedodibroto pernah berkantor di 4 tempat pengungsian.
Saat situasi memanas pasca serbuan ke lapangan udara Maguwo, tersiar kabar pasukan Belanda bergerak menuju Magelang.
Mengantisipasi serangan, Bupati Joedodibroto memutuskan memboyong staf-nya ke lokasi pengungsian di Dusun Clebung, Desa Soronalan, Kecamatan Sawangan.
Begitu merasa lokasi pengungsian mulai tercium Belanda, Joedodibroto kembali memindah kantornya ke Dusun Manggoran, Desa Bondowoso, Kecamatan Mertoyudan.
Kantor pusat pemerintahan secara berturut-turut dipindah ke Desa Bojong, Kecamatan Mungkid dan Desa Jumbleng, Muntilan, sebelum kembali ke tempat lama setelah situasi berangsur aman.
Dari 4 rumah pengungsian yang pernah menjadi kantor pusat pemerintahan darurat Kabupaten Magelang, kediaman H Achmad Marzuki di Dusun Manggoran yang masih terawat dan terjaga keaslian bangunannya.
“Pak Broto (Bupati Magelang, R Joedodibroto) hampir empat bulan tinggal di sini. Tidak hanya Bupati, seluruh staf-nya juga berkantor di sini. Jadi jalannya pemerintahan Kabupaten Magelang ya dari sini,” kata A Masduki Irawanto.
Masduki adalah cucu dari H Achmad Marzuki. Ibunya, Asiyah adalah putri semata wayang H Achmad Marzuki.
Orang sekitar mengenal rumah H Achmad Marzuki dengan sebutan Loji Manggoran.
Loji secara umum dipakai untuk menyebut bangunan besar— biasanya bergaya Eropa— yang dipakai sebagai kantor, tempat tinggal, atau pusat kegiatan dagang pada masa penjajahan Belanda.
Rumah Juragan Tembakau
Semasa hidup Achmad Marzuki adalah juragan sukses yang menguasai jaringan perdagangan tembakau hingga ke Jawa Timur.
Dengan luas rumah hampir 600 meter persegi, Loji Manggoran memiliki beberapa ruangan besar yang dulu digunakan untuk menyimpan daun-daun mole.
“Kakek saya pedagang tembakau. Sudah lama berdagang sampai Surabaya. Beli tembakau di sini terus dijual ke Jawa Timur. Punya langganan pabrik-pabrik rokok, mayoritas di Jawa Timur. Termasuk luas juga wawasannya.”
Loji Manggoran menjadi salah satu bukti luasnya wawasan berpikir dan pergaulan H Achmad Marzuki.
Tidak hanya kaya raya, Achmad Marzuki punya selera membangun rumah setara dengan orang-orang Eropa.
Menurut sertifikat cagar budaya yang diterbitkan Pemkab Magelang tanggal 1 Desember 2020, bangunan Loji Manggoran bergaya indis.
Jendela dan pintunya bergaya Indische empire style yang menggambarkan adaptasi terhadap iklim tropis yang dipengaruhi budaya Jawa.
Semua material rumah diambil dari bahan-bahan bangunan kelas satu. Batu gamping yang dipakai untuk membangun tembok, didatangkan dari Tulungagung.
Semua kusen termasuk bilah pintu dan jendela, berbahan kayu jati yang didatangkan khusus dari Nganjuk.
“Semua masih asli. Pintu, jendela, kusen, sampai kayu reng dan usuk bahannya dari kayu jati. Semua masih asli termasuk genteng. Plafon-nya dari seng. Itu juga masih zaman Belanda,” kata Masduki.
Makan Aman di Pengungsi
Sebagai juragan sukses, H Achmad Marzuki juga dikenal dermawan. Selama dua bulan, ia menerima dan menanggung kebutuhan makan seluruh pengungsi yang menghindar dari perang selama masa agresi militer Belanda II.
Keluarga H Achmad Marzuki menyediakan ransum makan 2 kali sehari untuk semua pengungsi. Rata-rata menghabiskan 20 kilogram beras setiap hari.
“Orang yang mengungsi tidak hanya Bupati Magelang. Karena diluar tidak aman, banyak orang ikut mengungsi ke sini. Itu yang menjamin (kebutuhan makan) keluarga kami. Ada ratusan orang. Kami bikin dapur umum.”
Selama kantor pemerintahan Bupati Magelang berada di pengungsian Loji Manggoran, tidak sekalipun pasukan Belanda datang menyerbu.
Menurut Masduki, dulu akses jalan menuju Loji terbilang sulit.
Saat itu jalan masuk menuju Loji Manggoran masih berupa tanah liat. Jalan becek berlumpur sangat sulit dilewati terutama setelah turun hujan.
“Rumah kami dipilih terutama karena dianggap aman untuk tempat mengungsi. Kedua masalah kelayakan tempat. Untuk menampung staf karyawan kabupaten saat itu tidak sembarangan.”
Foto Bupati Joedodibroto
Keluarga Masduki menerima uang kompensasi sebesar Rp150 ribu setiap bulan karena menempati bangunan cagar budaya.
Jumlah itu sangat kecil dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat rumah tua.
Tapi Masduki tidak keberatan. Dia mengaku memiliki sumber pendapatan yang cukup untuk menjaga kelestarian bentuk bangunan bersejarah ini.
Dia hanya meminta Bupati Magelang, Grengseng Pamuji bersedia berkunjung ke Loji Manggoran dan meninggalkan kenang-kenangan repro foto atau lukisan wajah Bupati R Joedodibroto.
“Kami hanya minta foto (Bupati R Joedodibroto). Di kabupaten kan pasti ada. Jadi tamu yang datang bisa melihat, ini bupati Magelang yang dulu pernah berkantor disini. Ada bukti sejarahnya.”
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Dulu Kerap Ditolak dan Dibully, Pekerja Difabel Ini Temukan Rumah Baru di Pabrik Rokok Magelang
-
Mengenal Varian Cicada, Ahli Sebut Anak-Anak Lebih Rentan Tertular Dibanding Dewasa
-
Cuaca Semarang Jumat Ini 'Adem Ayem', BMKG Peringatkan Hujan Lebat di 5 Wilayah Lain
-
Lapas Semarang Bobol? Napi Robig Zaenudin Kendalikan Narkoba, 40 Orang Dikirim ke Nusakambangan
-
BRI Catat 39,7% Kenaikan, Buka Money Changer di Perbatasan Motaain Nusa Tenggara Timur