SuaraJawaTengah.id - Gelombang kemarahan massa yang berujung kerusuhan di berbagai penjuru Indonesia menjadi cerminan luka mendalam yang dirasakan masyarakat.
Di tengah situasi yang kian memanas, suara keprihatinan muncul dari kalangan akademisi, menyuarakan apa yang menjadi perasaan banyak orang.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Kholidul Adib, mengungkapkan kesedihan dan keprihatinannya atas huru-hara yang terjadi.
Baginya, pemandangan ini adalah potret buram bangsa yang kian terpuruk.
"Pandangan saya mungkin sama dengan pandangan kebanyakan orang Indonesia. Saya sangat sedih dan prihatin atas huru hara akhir-akhir ini apalagi ada korban yang meninggal tentu ini sangat memilukan semua pihak," ujar Kholidul Adib saat dikonfirmasi pada Sabtu (30/8/2025) malam.
Kondisi ini, menurutnya, adalah akumulasi dari berbagai persoalan yang menghimpit rakyat kecil.
Kesenjangan sosial terasa begitu nyata, di mana penderitaan warga biasa kontras dengan kemewahan yang dipertontonkan para elit politik dan pejabat negara.
"Di tengah kondisi bangsa kita yang semakin terpuruk banyak orang yang kena PHK tapi pajak naik dan pejabat hidup mewah gaji naik seolah tidak peka dengan penderitaan rakyat. Rakyat kecil susah mencari rizki tapi elit hidup bergelimang harta," tegasnya.
Faktanya, data memang menunjukkan kondisi ekonomi yang berat. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat, sepanjang Januari hingga Maret 2025 saja, sudah ada 73.992 pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Baca Juga: AICIS 2024 Hasilkan Sembilan Butir Piagam Semarang, Apa Saja Isinya?
Angka ini melanjutkan tren negatif dari tahun 2024 di mana 257.471 pekerja kehilangan pekerjaan.
Di saat yang sama, berbagai kebijakan seperti kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di sejumlah daerah semakin menambah beban hidup.
Rasa muak dan frustrasi ini akhirnya tak terbendung. Aspirasi yang coba disalurkan seakan membentur tembok tebal kebisuan para wakil rakyat.
"Rakyat pun bergerak menyuarakan suara hati. Tapi parlemen tuli tidak punya empati. Saluran aspirasi tersumbat rakyat pun marah. Dimulai dari Pati yang memantik api. Jakarta pun bergejolak. Indonesia pun membara," papar Adib.
Apa yang disebut Adib sebagai "api dari Pati" merujuk pada kerusuhan besar di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang dipicu rencana kenaikan PBB hingga 250 persen pada pertengahan Agustus 2025.
Amuk massa di sana seolah menjadi pemantik gelombang protes yang lebih besar.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Apel Siaga Bulan K3 Nasional, Semen Gresik Tegaskan K3 sebagai Budaya dan Prioritas Utama
-
Warga Pati Berpesta: Kembang Api Sambut Tumbangnya Bupati Sudewo
-
7 Fakta Mengejutkan Kasus Korupsi Bupati Pati: Dari Jual Beli Jabatan hingga Suap Proyek Kereta Api
-
Pantura Jateng Siaga Banjir dan Longsor! BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Ekstrem
-
3 MPV Bekas Rp50 Jutaan Tahun 2005 ke Atas: Mewah, Nyaman, dan Kini Gampang Dirawat!