- Undip serukan perdamaian atas krisis politik nasional.
- Aparat diminta persuasif, humanis, dan proporsional.
- Pemerintah dan DPR didesak batalkan kebijakan kontroversi.
SuaraJawaTengah.id - Pemandangan tak biasa terjadi di Lapangan Widya Purata, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada Kamis sore.
Jajaran pimpinan tertinggi kampus, mulai dari rektor, dekan, dewan profesor, hingga mahasiswa bersatu padu, "turun gunung" menyikapi panasnya situasi politik nasional.
Dipimpin langsung oleh Rektor Undip, Prof. Suharnomo, seluruh sivitas akademika yang hadir dengan khidmat membacakan lima poin Seruan Perdamaian.
Aksi ini menjadi respons keras sekaligus bentuk keprihatinan mendalam atas serangkaian demonstrasi yang berujung jatuhnya korban jiwa dan penangkapan ratusan mahasiswa.
"Universitas Diponegoro memandang dengan keprihatinan mendalam perkembangan situasi politik dan sosial di Indonesia, khususnya terkait demonstrasi yang baru-baru ini menimbulkan korban jiwa," tegas Prof. Suharnomo di hadapan ribuan audiens dikutip dari ANTARA pada Jumat (5/9/2025).
Seruan moral dari kampus Pangeran Diponegoro ini bukan sekadar imbauan biasa.
Poin-poin yang disampaikan menyoroti langsung kinerja aparat penegak hukum serta kebijakan pemerintah dan DPR yang dinilai kontroversial dan tidak berpihak pada rakyat.
Salah satu poin krusial adalah desakan agar aparat mengubah pendekatannya dalam menangani aksi massa.
"Kedua, mendesak aparat penegak hukum untuk senantiasa mengedepankan pendekatan persuasif, humanis, dan proporsional dalam rangka menjaga ketertiban," ujar Rektor.
Baca Juga: Punya Polytron Stadium, Undip Siap Sumbang Regenerasi Atlet Bulutangkis Indonesia
Tak berhenti di situ, Undip juga secara terang-terangan meminta pemerintah dan wakil rakyat untuk mengevaluasi kembali produk kebijakan mereka.
Tuntutan ini menjadi puncak dari keresahan publik yang selama ini disuarakan melalui aksi jalanan.
Poin keempat seruan tersebut berbunyi, mengingatkan pemerintah dan DPR agar membatalkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan, memperlebar kesenjangan, mengancam kelangsungan demokrasi dan sistem masyarakat sipil.
Seruan ini diperkuat dengan pernyataan Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq Aoraqi, yang mengungkap fakta konkret di lapangan.
Menurutnya, aksi ini juga dipicu oleh perlakuan represif yang diterima mahasiswa saat menyuarakan aspirasi.
Aufa menyebut pada aksi demo beberapa waktu lalu, setidaknya ada 100 mahasiswa yang ditangkap oleh polisi. Meskipun mayoritas telah dibebaskan, persoalan belum selesai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
PSIS Semarang vs Kendal Tornado FC, Junianto: Kami Ingin Laga yang Menghibur
-
Bagi Dividen Jumbo, BRI Jaga Keseimbangan Imbal Hasil dan Ekspansi Bisnis
-
Dulu Kerap Ditolak dan Dibully, Pekerja Difabel Ini Temukan Rumah Baru di Pabrik Rokok Magelang
-
Mengenal Varian Cicada, Ahli Sebut Anak-Anak Lebih Rentan Tertular Dibanding Dewasa
-
Cuaca Semarang Jumat Ini 'Adem Ayem', BMKG Peringatkan Hujan Lebat di 5 Wilayah Lain