TNI Angkatan Darat menolak mentah-mentah gagasan Angkatan Kelima. Panglima Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani, berpendapat bahwa usulan tersebut tidak efisien.
Indonesia sudah memiliki Hansip atau Pertahanan Sipil yang cukup. Membentuk milisi baru hanya akan menimbulkan kerumitan. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa Angkatan Kelima akan menjadi alat politik PKI.
6. Kekhawatiran Ahmad Yani
Menurut kesaksian istrinya, Ahmad Yani sudah lama gerah dengan propaganda PKI yang berbunyi “Satu tangan pegang bedil, satu tangan pegang cangkul.” Bagi Yani, slogan itu mencerminkan agenda tersembunyi PKI untuk mengaburkan batas sipil dan militer.
Jika rakyat sipil dipersenjatai di bawah pengaruh partai, maka posisi Angkatan Darat bisa terancam.
7. Retaknya Hubungan PKI dan TNI AD
Gagasan Angkatan Kelima memperlebar jurang ketidakpercayaan antara PKI dan Angkatan Darat. Jika sebelumnya hubungan sudah renggang karena perbedaan ideologi, maka ide ini menjadi pemicu tambahan. Militer melihatnya sebagai langkah nyata PKI untuk menguasai negara dengan jalan mengendalikan kekuatan bersenjata rakyat.
8. Kegagalan Realisasi dan Jalan Menuju G30S PKI
Angkatan Kelima pada akhirnya tidak pernah terbentuk. Penolakan keras dari TNI AD membuat gagasan itu hanya tinggal wacana. Namun, usulan ini ikut membentuk suasana politik yang tegang menjelang September 1965.
Baca Juga: Selamat dari Maut G30S/PKI, Begini Kisah Dramatis Jenderal AH Nasution Selamatkan Diri
Beberapa sejarawan menilai bahwa ide ini memperlihatkan keberanian PKI sekaligus memperbesar rasa curiga militer. Ketegangan yang tidak terkendali inilah yang kemudian meledak dalam tragedi G30S, yang menghancurkan PKI secara keseluruhan.
Kisah Angkatan Kelima memberi banyak pelajaran. Politisasi militer terbukti berbahaya karena bisa memicu konflik internal negara.
Partisipasi rakyat dalam pertahanan memang penting, tetapi harus diatur di bawah institusi resmi, bukan partai politik. Ketegangan ideologi yang tidak dikelola dengan baik hanya akan membawa bangsa pada perpecahan dan tragedi.
Sejarah Angkatan Kelima PKI menjadi bukti bahwa ideologi yang dipadukan dengan kekuasaan bersenjata dapat membawa konsekuensi fatal.
Walaupun gagal terwujud, usulan itu memperlihatkan betapa panasnya politik Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin. Pada akhirnya, tragedi G30S 1965 menjadi penutup dari ambisi PKI, sekaligus mengubur selamanya wacana Angkatan Kelima.
Kontributor : Dinar Oktarini
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
- Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- 5 Manfaat Air Mawar untuk Wajah dan Kulit yang Menarik Diketahui
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
Pilihan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
-
Episode Erupsi Gunung Anak Krakatau Berakhir, Kata Badan Geologi
-
Abu Vulkanik Krakatau Meningkat, Operasional Bandara Soetta Berhenti hingga Pukul 6 Sore
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
Terkini
-
Erupsi Gunung Anak Krakatau, 29 Penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang Batal
-
86 Personel Berjibaku Jinakkan Api di Lereng Gunung Sumbing, 1,72 Hektare Hutan Terbakar
-
'Kalian Anak Saya!' Aksi Spontan Gubernur Ahmad Luthfi Datangi Kos Mahasiswa NTT Bikin Haru
-
Bukan Menolak Geothermal, DPRD Jateng Minta Hitung Ulang Dampak PLTP Gunung Ungaran
-
Jateng Disebut 'Minimarket Bencana', Ahmad Luthfi Minta Relawan Bergerak Cepat!