-
- Pemilu 1955 diwarnai kampanye frontal, serangan personal, dan hoaks identitas yang menenggelamkan isu programatik.
- Polarisasi politik makin tajam akibat media, fitnah agama, hingga debat ideologis yang digiring elite partai.
- Benih konflik 1955 meledak pada 1965; jadi pelajaran bahwa hoaks dan politik identitas rawan merusak demokrasi.
SuaraJawaTengah.id - Pemilu 1955 sering dipuji sebagai pemilu paling demokratis pada awal republik. Namun kenyataannya, kontestasi justru dipenuhi serangan personal, tuduhan, dan agitasi yang menenggelamkan isu programatik.
Hoaks dan fitnah menjadi senjata utama untuk mempertajam perbedaan antarpartai besar: PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Identitas dan religiusitas ikut ditarik ke panggung politik, membuat demokrasi muda Indonesia rapuh.
Polarisasi yang lahir sejak 1955 tidak berhenti di kotak suara. Ia terus menumpuk hingga akhirnya meledak dalam krisis 1965. Tragedi G30S/PKI menjadi titik balik: negara membubarkan PKI dan peta politik nasional berubah drastis.
Partai besar yang dulu mendominasi pemilu pun hilang, meninggalkan jejak luka sejarah yang panjang. Simak 6 fakta Pemilu 1955 khususnya pertarungan PKI dan Masyumi sebagaimana dikutip dari YouTube Sejarah Seru.
1. Kampanye yang lugas dan frontal, aturan masih longgar
Pada 1955, regulasi kampanye belum serinci sekarang. Serangan terbuka kepada lawan politik berlangsung di rapat umum dan media cetak.
KH Isa Ansari dari Masyumi Jawa Barat tercatat melontarkan serangan keras dengan menyebut lawan politik sebagai munafik dan kafir. Nada ini memperlihatkan kampanye yang gamblang serta minim filter, sehingga opini publik mudah terseret arus emosi.
2. Serangan balasan PKI ikut mengeraskan suasana
Tidak hanya menerima hantaman, elite PKI membalas dengan retorika tandingan di panggung terbuka. D. N. Aidit menarasikan bahwa bergabung dengan PKI itu halal, sedangkan Masyumi digambarkan sebaliknya.
Baca Juga: Pembantaian Purwodadi: Mengungkap Salah Satu Babak Tergelap Sejarah Indonesia Pasca-G30S PKI
Pernyataan seperti ini menyulut eskalasi psikologis antara barisan massa, mempertebal polarisasi, dan mengalihkan perhatian dari diskursus program yang substansial.
3. Media cetak menjadi alat perang opini
Pertempuran narasi tidak berhenti di podium. Media menjadi senjata untuk mengokohkan persepsi. Majalah Hikmah milik Masyumi membuka rubrik “Kawan dan Lawan”, sementara harian Abadi secara rutin menguliti PKI.
Di sisi lain, kanal milik PKI memukul balik dengan framing geopolitik: lawan dituding antek Amerika, sebaliknya mereka dituding antek Moskow. Perang label ini membuat publik akrab dengan dikotomi “kita” versus “mereka.
4. Hoaks bernuansa agama yang memantik emosi
Salah satu cerita paling terkenal adalah isu sobekan Al-Qur’an berstempel PKI. Di sobekan itu tertulis “Masyumi” yang sekilas terbaca “asu” dalam bahasa Jawa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Wujud Syukur 12 Tahun Perjalanan Perusahaan, Semen Gresik Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim
-
Darurat Kecelakaan Kerja di Jawa Tengah: Wagub Taj Yasin Desak Perusahaan Genjot Budaya K3!
-
Jawa Tengah Siaga! BMKG Peringatkan Banjir dan Longsor Mengancam Hingga Februari 2026
-
Ini Ciri-ciri Aplikasi Penghasil Uang yang Aman dan Terpercaya
-
Avanza Kalah Telak! Inilah Mobil Seumur Hidup Pilihan Terbaik di Bawah 200 Juta