- Pembangunan Waduk Gajah Mungkur menenggelamkan 51 desa dan memaksa lebih dari 67 ribu warga pindah.
- Warga menerima kompensasi minim, hanya Rp100–Rp1.000 per bidang tanah, memicu kisah pilu kehilangan.
- Kini waduk jadi sumber listrik dan irigasi, tapi tetap menyimpan kenangan pahit dan harga sebuah kemajuan.
SuaraJawaTengah.id - Siapa sangka, di balik permukaan tenang Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, tersimpan kisah pilu yang jarang dibicarakan. Ketika air surut, sejarah seolah muncul kembali.
Nisan makam yang terendam, puing rumah yang muncul dari dasar air, dan sisa reruntuhan bangunan menjadi saksi bisu dari 51 desa yang harus tenggelam demi proyek besar pembangunan waduk ini.
Waduk Gajah Mungkur memang menjadi kebanggaan nasional karena manfaatnya bagi pertanian dan listrik. Namun di balik itu, ada ribuan kisah manusia yang kehilangan rumah, tanah, dan masa lalu mereka.
Sebagaimana dikutip dari Koropak Channel, berikut tujuh fakta mengejutkan yang mengungkap sisi lain dari pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang jarang diketahui publik.
1. 51 Desa Dikorbankan untuk Satu Proyek Raksasa
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur dimulai pada tahun 1976 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Untuk membendung Sungai Bengawan Solo dan menampung air dalam skala besar, sebanyak 51 desa harus ditenggelamkan.
Rumah, ladang, tempat ibadah, bahkan pemakaman lenyap di bawah air. Bagi masyarakat yang tinggal di sana, air bukan hanya membanjiri sawah mereka, tapi juga menghapus sejarah keluarga yang telah turun-temurun hidup di tanah itu.
2. 67 Ribu Lebih Warga Terpaksa Tinggalkan Tanah Leluhur
Proyek ini memaksa sekitar 67.515 jiwa meninggalkan kampung halamannya. Sebagian besar di antara mereka mengikuti program transmigrasi besar-besaran ke Sumatera yang digagas Presiden Soeharto.
Baca Juga: Biadab! Pria di Wonogiri Setubuhi Anak Tiri Selama 2 Tahun Belakangan, Ini Kronologinya
Tujuannya adalah memberi lahan baru bagi warga terdampak, namun banyak yang merasa tanah Sumatera terlalu jauh dan asing. Sebagian keluarga memilih bertahan di Jawa tanpa bantuan, hidup di tepian waduk dan berusaha memulai dari nol.
3. Kompensasi yang Tragis: Hanya Rp100 sampai Rp1.000 per Bidang
Kisah paling menyedihkan datang dari besarnya kompensasi yang diberikan. Pemerintah saat itu hanya memberikan ganti rugi antara Rp100 hingga Rp1.000 untuk setiap bidang tanah yang tergenang.
Nilai itu bahkan tidak cukup untuk membangun kembali satu rumah sederhana. Banyak warga menerima dengan berat hati karena tidak punya pilihan lain. Tak sedikit pula yang menolak pindah, meski tahu tanah mereka akan tenggelam.
4. Pembangunan Berjalan Cepat, Tangisan Tak Pernah Padam
Waduk Gajah Mungkur mulai terisi air pada Juli 1981 dan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 17 November 1981. Proyek ini menelan biaya sekitar Rp69 miliar, angka yang sangat besar untuk ukuran masa itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Legislator Sebut Andrea Bocelli Bantu Perluas Promosi Budaya Indonesia
-
Pemprov Jateng Terus Perkuat Dukungan Pesantren, dari Tali Asih Hafiz hingga Beasiswa Santri
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun