- Penobatan Mangkubumi sebagai PB XIV menuai kritik dari Timoer Rumbai karena dianggap tidak mengikuti komunikasi keluarga dan tata adat Keraton Surakarta.
- Timoer Rumbai membantah klaim Mangkubumi tidak diajak musyawarah, menyoroti upaya dialog telah dilakukan namun tidak mendapatkan respons positif.
- Upacara penobatan dinilai bertentangan dengan adat karena persiapan logistik dan ritual yang matang menunjukkan acara tersebut tidak dilakukan secara spontan.
SuaraJawaTengah.id - Langkah Mangkubumi atau HGB Hangebeni yang menggelar upacara penobatan dirinya sebagai PB XIV (Raja Keraton Surakarta) memicu sejumlah kritik dari Timoer Rumbai.
Menurutnya, keputusan itu tidak mengikuti komunikasi keluarga, tidak selaras dengan tata adat, dan menunjukkan ketidakkonsistenan dengan pernyataan Mangkubumi sendiri sebelumnya.
Berikut lima kritik utama yang ia sampaikan dalam berbagai kesempatan ke awak media.
1. Pertanyaan soal surat wasiat tidak disampaikan langsung sebelum penobatan
Menurut Timoer, salah satu titik persoalan bermula dari sikap Mangkubumi yang mempertanyakan keabsahan surat wasiat PB XIII, namun tidak menyampaikannya secara langsung ketika ada kesempatan.
Timoer menyebut bahwa sehari setelah pemakaman, ia dan Mangkubumi bertemu dalam suasana keluarga. Pada momen tersebut, menurutnya, tidak ada satu pun keberatan yang disampaikan Mangkubumi terkait surat wasiat maupun proses suksesi.
Karena itu, ketika kemudian muncul tindakan menobatkan diri melalui acara Gondrawino, Timoer merasa heran.
Baginya, jika sebuah keberatan dianggap penting, hal itu seharusnya dikomunikasikan secara terbuka dalam pertemuan internal keluarga, bukan muncul setelah tindakan simbolik dilakukan.
Sikap yang tidak disampaikan sebelumnya membuat keputusan Mangkubumi dianggap tidak proporsional dan menyisakan pertanyaan mengenai niat sebenarnya.
Baca Juga: 9 Babak yang Mengurai Konflik Suksesi Keraton Kasunanan Surakarta Setelah Wafatnya PB XIII
2. Klaim tidak diajak musyawarah dianggap bertentangan dengan upaya dialog yang sudah dilakukan
Kritik kedua menyangkut narasi bahwa Mangkubumi tidak pernah diajak rembug keluarga. Timoer membantah keras hal ini.
Ia menjelaskan bahwa setelah adanya keputusan mengenai PB XIV, dirinya ditugasi untuk menjembatani komunikasi dengan Mangkubumi agar proses berikutnya bisa dilakukan bersama.
Ia mengatakan sudah menghubungi melalui pesan, telepon, hingga mencoba bertemu secara langsung, namun tidak ada respons dari pihak Mangkubumi.
Dari pengalamannya itu, Timoer menilai klaim bahwa tidak ada ajakan musyawarah justru tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami.
Ia bahkan merasa bahwa upaya memperbaiki komunikasi justru datang dari pihaknya, bukan dari Mangkubumi. Situasi ini membuat proses penyatuan langkah menjadi semakin sulit dan memperlebar jarak komunikasi.
3. Upacara penobatan dinilai tidak sesuai tata adat Keraton Surakarta
Timoer juga memberikan perhatian besar terhadap aspek adat dalam penobatan. Menurutnya, apa yang dilakukan Mangkubumi dalam acara Gondrawino tidak mencerminkan tata adat Keraton Surakarta.
Ia menyampaikan bahwa Mangkubumi selama ini dikenal sering mengemukakan pentingnya memegang teguh adat dan menjaga nilai-nilai tradisi. Namun tindakan menobatkan diri dengan cara sebagaimana dilakukan justru bertentangan dengan prinsip yang sering ia suarakan.
Selain itu, Timoer mengingatkan bahwa Mangkubumi sebelumnya menyampaikan pesan penting agar putra-putri PB XIII tidak terpecah.
Namun keputusan menobatkan diri tanpa komunikasi internal justru dianggap menambah ketegangan dan tidak mencerminkan upaya menjaga kebersamaan keluarga.
4. Banyak tanda penobatan sudah dipersiapkan, bukan spontan seperti yang disebutkan
Pada kritik berikutnya, Timoer menyoroti berbagai tanda yang menunjukkan bahwa acara penobatan tersebut bukan sesuatu yang terjadi mendadak.
Ia mencatat bahwa ada pakaian yang sudah disiapkan, padahal acara resmi semacam itu tentu memerlukan perencanaan.
Selain itu, sajèn wilujengan yang digunakan dalam ritual bukanlah sesuatu yang bisa dibuat dalam satu atau dua jam. Termasuk pula perlengkapan ritual lain yang terlihat sudah ditata sebelumnya.
Menurut Timoer, semua ini tidak selaras dengan anggapan bahwa acara di Gondrawino terjadi spontan. Baginya, langkah semacam itu adalah bagian dari proses terencana, sehingga akan lebih bijak jika proses komunikasi dan permusyawaratan dilakukan terlebih dahulu sebelum penobatan dilaksanakan.
5. Tidak ada kesediaan menyelesaikan persoalan secara langsung
Kritik terakhir menyangkut kemauan menyelesaikan masalah secara langsung.
Timoer menyampaikan bahwa dirinya telah berusaha menjalin komunikasi dan mengatur pertemuan keluarga untuk menyatukan langkah dalam situasi pasca wafatnya PB XIII.
Namun menurutnya, upaya tersebut tidak mendapatkan balasan dari Mangkubumi.
Ketidakhadiran respons itu membuatnya menilai bahwa tidak ada komitmen untuk duduk bersama dan membicarakan persoalan secara terbuka.
Bagi Timoer, sikap seperti ini justru memperumit situasi internal dan menghambat upaya mencari solusi yang seharusnya dilakukan bersama keluarga besar.
Berdasarkan penjelasan Timoer Rumbai, ada lima kritik utama terhadap langkah Mangkubumi menobatkan diri sebagai PB XIV.
Kritik tersebut mencakup kurangnya komunikasi langsung, klaim yang tidak selaras dengan fakta, penyelenggaraan acara yang dinilai tidak sesuai adat, tanda-tanda persiapan yang dianggap tidak spontan, hingga tidak adanya kesediaan untuk menyelesaikan masalah secara langsung.
Karena Keraton Surakarta memiliki tata adat dan mekanisme internal yang sangat khas, setiap langkah suksesi idealnya dilakukan melalui komunikasi keluarga, permusyawaratan, dan tata aturan adat yang telah berlangsung turun-temurun.
Dalam pandangan Timoer, langkah yang lebih terarah dan terbuka akan jauh lebih menjaga keutuhan keluarga dan kelangsungan tradisi keraton.
Kontributor : Dinar Oktarini
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Waktu Buka Puasa di Semarang Hari Ini 27 Februari 2026, Lengkap dengan Bacaan Doa
-
7 Fakta Banjir Semarang 2026: Motor Nyaris Hanyut di Kawasan Industri Candi
-
Mudik Gratis Bulog 2026 Resmi, Ini Rute Jawa Tengah dan Jogja serta Cara Daftarnya
-
Wuling Gempur Semarang: SUV Canggih Eksion Jadi Bintang!
-
Viral Perang Sarung di Grobogan Berujung Tragis, Ini 7 Fakta yang Terungkap