- Warga Desa Karangrowo Krajan, Kudus, menguras air sawah di tengah banjir untuk mencegah tanaman padi mati dan gagal panen.
- Petani membuat tanggul darurat dari karung berisi tanah mengelilingi sawah agar air banjir luar tidak masuk kembali.
- Tindakan warga menguras air tersebut didasarkan pada pengalaman bertani demi menyelamatkan tanaman padi yang sedang tumbuh hijau.
“Itu nyelametin padi yang tumbuh hijau. Kalau sampai terendam, padi petani rugi banyak. Negara saja yang enggak bisa ngerawat irigasi. Petani sudah mati-matian ngelindungi padi mereka,” tulis seorang warganet.
Komentar ini mencerminkan kekecewaan sebagian masyarakat terhadap kondisi infrastruktur irigasi yang dinilai kurang optimal. Saat sistem pengairan tidak berfungsi baik, petani kerap harus mengambil langkah darurat secara mandiri untuk melindungi lahan mereka.
Berdasarkan Pengalaman, Bukan Sekadar Coba-Coba
Seorang warganet lain yang mengaku pernah tinggal di desa tersebut memberikan penjelasan lebih teknis. Menurutnya, penyedotan air harus dilakukan dengan cepat agar padi tidak mati.
“Pengalaman saya selama di desa itu, kalau tidak cepat disedot airnya, padi bisa mati. Mereka sudah berusaha dengan pengalaman dan tanpa edukasi, jadi orang awam tidak tahu apa dan mengapa maksudnya,” tulisnya.
Penjelasan ini menegaskan bahwa tindakan warga bukanlah keputusan spontan tanpa dasar. Banyak petani mengandalkan pengalaman turun-temurun dalam menghadapi kondisi ekstrem, termasuk banjir. Pengetahuan praktis ini sering kali tidak dipahami oleh masyarakat awam yang melihatnya hanya dari potongan video singkat.
Pelajaran dari Viral di Media Sosial
Viralnya video ini menunjukkan bagaimana peristiwa di lapangan bisa dengan mudah disalahpahami ketika terlepas dari konteks.
Aksi menguras air di tengah banjir memang terlihat janggal, tetapi bagi petani, setiap menit sangat berharga untuk menyelamatkan tanaman yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Baca Juga: Kudus di Ujung Tanduk: Menteri LHK Ancam Sanksi Berat Imbas TPA Berbahaya di Atas Tebing
Peristiwa di Karangrowo Krajan juga menjadi pengingat bahwa di balik pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari, terdapat perjuangan panjang para petani dalam menghadapi cuaca ekstrem dan keterbatasan infrastruktur.
Apa yang tampak sederhana atau bahkan dianggap sia-sia oleh sebagian orang, bisa jadi merupakan satu-satunya cara agar hasil panen tidak gagal.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
Terkini
-
6 Fakta Pembubaran Kegiatan Pemuda Ahmadiyah
-
Polisi Bubarkan Perkemahan Pemuda Ahmadiyah, Jubir JAI: Itu Cuma Camping Anak-Anak dan Olahraga
-
Musim Kemarau Sudah Dekat, BMKG Beri Peringatan Hujan Masih akan Mengguyur Wilayah Jateng
-
Apresiasi Ombudsman Jateng, YPAI biMBA AIUEO: Keadilan untuk Rumah Baca Purbalingga Terwujud
-
Predator Dana Hari Tua: Eks Pegawai Bank Tipu 60 Pensiunan di Purwokerto Lewat Investasi Bodong