- KPK menetapkan Bupati Pati Sudewo sebagai tersangka dalam dua kasus korupsi berbeda: jual beli jabatan perangkat desa dan suap proyek jalur kereta api.
- Penetapan tersangka ini dipicu oleh OTT terkait pungutan liar jabatan desa dengan tarif jutaan rupiah yang terkumpul sekitar Rp2,6 miliar.
- Warga Pati merayakan penetapan tersangka Sudewo dengan menyalakan kembang api, menunjukkan euforia atas penegakan hukum yang telah lama dinantikan.
Pintu Masuk dari Kasus Jual Beli Jabatan: Asep Guntur Rahayu mengungkapkan bahwa kasus jual beli jabatan menjadi "pintu masuk" bagi KPK untuk menelusuri dan menetapkan Sudewo sebagai tersangka dalam kasus suap proyek jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA).
Dugaan Penerimaan Commitment Fee: KPK mendalami dugaan Sudewo menerima commitment fee dari proyek tersebut saat menjabat sebagai anggota DPR.
Pemeriksaan Berulang: Sudewo telah diperiksa KPK berkali-kali, termasuk pada Agustus dan September 2025, terkait kasus ini. Pada pemeriksaan sebelumnya, ia sempat mengklaim uang yang diterimanya adalah "pendapatan dari DPR RI".
Bantahan Sudewo dan Penahanan KPK
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Sudewo membantah keras keterlibatannya.
"Saya menganggap saya ini dikorbankan, saya betul-betul tidak mengetahui sama sekali," katanya.
Ia juga mengklaim bahwa rencana pengisian perangkat desa baru akan dilaksanakan Juli 2026 dan telah mengklarifikasi rumor jual beli jabatan.
Meskipun demikian, KPK menyatakan telah menemukan "kecukupan alat bukti" dan menahan Sudewo serta tiga tersangka lainnya di rumah tahanan negara cabang Gedung Merah Putih KPK selama 20 hari pertama, dari tanggal 20 Januari hingga 8 Februari 2026.
Mereka dituduh melanggar Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Baca Juga: OTT Bupati Sudewo, Gerindra Jateng Dukung Penuh Penegakan Hukum dari KPK
Dampak dan Harapan Masyarakat Pati
Penangkapan Sudewo tidak hanya disambut dengan perayaan kembang api, tetapi juga harapan besar. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemoen, menjamin pelayanan publik di Pati akan tetap berjalan, termasuk penanganan banjir yang sedang melanda.
Masyarakat Pati berharap, dengan tumbangnya Sudewo, kepemimpinan di Pati ke depan akan lebih adil, transparan, tidak arogan, dan benar-benar peduli pada masyarakat. Keterbukaan anggaran dan pembangunan dari tingkat desa hingga kabupaten menjadi prioritas utama untuk memulihkan kepercayaan publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 7 Sepatu Nike Tanpa Tali yang Praktis dan Super Nyaman untuk Lansia
Pilihan
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
-
Hashim dan Anak Aguan Mau Caplok Saham UDNG, Bosnya Bilang Begini
Terkini
-
Apel Siaga Bulan K3 Nasional, Semen Gresik Tegaskan K3 sebagai Budaya dan Prioritas Utama
-
Warga Pati Berpesta: Kembang Api Sambut Tumbangnya Bupati Sudewo
-
7 Fakta Mengejutkan Kasus Korupsi Bupati Pati: Dari Jual Beli Jabatan hingga Suap Proyek Kereta Api
-
Pantura Jateng Siaga Banjir dan Longsor! BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat Ekstrem
-
3 MPV Bekas Rp50 Jutaan Tahun 2005 ke Atas: Mewah, Nyaman, dan Kini Gampang Dirawat!