- Kunci jawaban latihan soal Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 147-148 mengklasifikasikan puisi menjadi diafan dan prismatis.
- Puisi diafan mengungkapkan pesan secara langsung, sederhana, dan mudah dipahami maknanya oleh siswa.
- Puisi prismatis mengandung lapisan makna mendalam menggunakan metafora dan simbolisme yang memerlukan analisis lebih lanjut.
SuaraJawaTengah.id - Dalam proses pembelajaran, memahami dan mempraktikkan soal-soal yang diberikan adalah hal yang penting bagi setiap siswa. Salah satu cara untuk melatih pemahaman siswa adalah dengan latihan soal. Untuk membantu siswa dalam memahami materi puisi, berikut ini adalah kunci jawaban untuk soal latihan pada Buku Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 147-148 Kurikulum Merdeka.
Soal Berlatih
Pada latihan ini, siswa diberikan beberapa bait puisi yang harus dianalisis untuk menentukan apakah termasuk jenis puisi diafan atau prismatis. Berikut adalah penjelasan mengenai kedua jenis puisi tersebut:
Puisi Diafan: Puisi yang mengungkapkan perasaan atau pesan secara langsung dan sederhana. Puisi ini cenderung jelas, mudah dipahami, dan menyampaikan makna yang lugas.
Puisi Prismatis: Puisi yang lebih kompleks, dengan penggunaan metafora, simbolisme, dan gaya bahasa yang lebih mendalam. Puisi ini mengandung banyak lapisan makna yang harus dianalisis lebih lanjut.
Berikut adalah soal puisi yang diberikan:
Kunci Jawaban:
Sahabatku bernama Faizal
Orangnya jenaka
Suka melontarkan lelucon sepanjang waktu
(Puisi Diafan)
Baca Juga: Rumus Persegi dan Persegi Panjang Terlengkap dengan Soal
Puisi ini jelas menggambarkan karakter seseorang dengan kata-kata sederhana dan langsung. Tidak ada metafora atau simbolisme yang dalam, maknanya mudah dipahami, maka puisi ini masuk dalam kategori puisi diafan.
Aku membeli topi
Pedagangnya sudah tua
Setiap hari membawa berlusin-lusin topi di keranjang
(Puisi Diafan)
Sama halnya dengan puisi sebelumnya, puisi ini menyampaikan gambaran secara sederhana tentang pedagang tua yang menjual topi. Terdapat deskripsi yang jelas tanpa adanya gaya bahasa yang berlapis, sehingga ini adalah puisi diafan.
Setelah 10 tahun, aku melihatnya lagi
Tubuhnya seperti daun yang dimakan ulat
Keropos oleh sakit
Kopong oleh waktu
(Puisi Prismatis)
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Solusi Perjalanan Jauh Tanpa Cemas, SUV Hybrid Wuling Eksion Diklaim Tembus 1.000 Km Sekali Isi
-
Bea Cukai dan BAIS TNI Bongkar Sindikat Jutaan Pita Cukai Palsu dan Mesin Cetak di Jateng
-
Di JMS 2026, Wagub Taj Yasin Minta Media Soroti Pertumbuhan Ekonomi Jateng dan Gandeng Anak Muda
-
Polda Jateng Ungkap Dugaan Investasi Ilegal Koperasi BLN, 41 Ribu Nasabah Jadi Korban
-
Jateng Media Summit 2026: Dewan Pers Dorong Media Lokal Pahami AI dan Tunjukkan Jati Diri