- Pohon randu alas berusia 250 tahun di Lapangan Desa Tuksongo ditebang karena kondisinya lapuk demi keselamatan publik.
- Pohon tersebut menjadi penanda identitas desa dan sering digunakan petani sekitar Borobudur untuk menjemur tembakau.
- Sisa batang pohon akan dijadikan monumen setinggi delapan meter sebagai ikon desa setelah kajian UGM menyatakan mati.
Jadi selama musim kemarau, lapangan khusus dipakai menjemur rajangan tembakau. “Musim hujan biasanya baru dipakai untuk main sepak bola,” ujar Abdul Karim.
Pilihan Sulit
Cabang besar paling bawah randu alas berhasil dipotong dan diturunkan. Suara gergaji mesin meraung mencacah cabang menjadi bagian-bagian kecil.
Diam-diam hati Abdul Karim ikut terluka. “Tidak ada niatan kami menebang randu alas. Tapi berhubung dilihat kasat mata, sudah tidak layak hidup, mau tidak mau kami harus melangkah demi aspek keselamatan.”
Randu alas Tuksongo berada di kawasan wisata dan dekat dengan permukiman warga. Pohon yang semakin tua dan lapuk dapat membahayakan pengguna jalan maupun wisatawan.
Sebagai Kepala Desa Tuksongo, Abdul Karim memutuskan menebang pohon tua itu. Pohon itu tidak sekadar meranggas seperti yang dibilang banyak orang, tapi sedang sekarat.
“Randu alas memang bisa meranggas. Tapi setahu saya, jika meranggas itu biasanya hanya daunnya. Sekarang sampai kulitnya (mengering dan mengelupas). Otomatis kami memandang pohon itu sudah mati.”
Upaya penyelamatan sempat dilakukan. Dinas Lingkungan Hidup Magelang pernah berusaha mengobati randu alas tapi sia-sia.
Monumen Randu Alas
Baca Juga: 8 Tempat Camping di Magelang untuk Wisata Akhir Pekan Syahdu Anti Bising Kota
Kajian Fakultas Kehutanan dan Pertanian Universitas Gadjah Mada menyimpulkan bahwa randu alas Tuksongo tidak lagi bisa diselamatkan. Sekitar 95 persen batang pohonnya telah mati, sehingga dianggap rusak ekstrem.
Kondisi batang menghitam, kering, dan lapuk dengan jejak keberadaan serangga penggerek batang randu sebagai hama utama. Seluruh ranting telah kering, rapuh, dan mudah luruh.
Menolak melupakan randu alas, Adul Karim didukung warganya memutuskan untuk menjadikan sisa batang randu alas menjadi monumen peringatan.
“Opsi kami randu alas ditebang disisakan batang setinggi 8 meter dari bawah. Jadi walaupun pohon sudah ditebang, di sana kami tetap masih punya ikon desa,” kata Abdul Karim.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Magelang, Mulyanto, keputusan menebang randu alas merupakan hasil musyawarah Pemerintah Desa bersama tokoh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Magelang.
“Pemerintah desa memilih memadukan kepentingan publik dengan aspek keselamatan. Tanpa menghilangkan nilai ikon pariwisata.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Ada Tempat Hiling Baru, 23 Semarang Shopping Center Resmi Buka dengan Konsep Oase yang Bikin Fomo
-
Dampingi Prabowo Panen Raya, Ahmad Luthfi Sebut Budidaya Udang Memiliki Prospek Bagus
-
Sambut Demam World Cup, adidas Buka Toko Terbesar di Jateng Berkonsep 'Home of Sport' di Semarang
-
Pastikan Tepat Sasaran, BRI Peduli Salurkan 3.200 Paket Sembako bagi Warga Tegal
-
Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Jelang Perayaan Iduladha 2026