Budi Arista Romadhoni
Senin, 02 Februari 2026 | 16:14 WIB
Proses penebangan randu alas di Desa Tuksongo, Borobudur menggunakan alat berat. (Suara.com/ Angga Haksoro Ardi).
Baca 10 detik
  • Pohon randu alas berusia 250 tahun di Lapangan Desa Tuksongo ditebang karena kondisinya lapuk demi keselamatan publik.
  • Pohon tersebut menjadi penanda identitas desa dan sering digunakan petani sekitar Borobudur untuk menjemur tembakau.
  • Sisa batang pohon akan dijadikan monumen setinggi delapan meter sebagai ikon desa setelah kajian UGM menyatakan mati.

Jadi selama musim kemarau, lapangan khusus dipakai menjemur rajangan tembakau. “Musim hujan biasanya baru dipakai untuk main sepak bola,” ujar Abdul Karim.

Pilihan Sulit

Cabang besar paling bawah randu alas berhasil dipotong dan diturunkan. Suara gergaji mesin meraung mencacah cabang menjadi bagian-bagian kecil.

Diam-diam hati Abdul Karim ikut terluka. “Tidak ada niatan kami menebang randu alas. Tapi berhubung dilihat kasat mata, sudah tidak layak hidup, mau tidak mau kami harus melangkah demi aspek keselamatan.”

Randu alas Tuksongo berada di kawasan wisata dan dekat dengan permukiman warga. Pohon yang semakin tua dan lapuk dapat membahayakan pengguna jalan maupun wisatawan.

Sebagai Kepala Desa Tuksongo, Abdul Karim memutuskan menebang pohon tua itu. Pohon itu tidak sekadar meranggas seperti yang dibilang banyak orang, tapi sedang sekarat.  

“Randu alas memang bisa meranggas. Tapi setahu saya, jika meranggas itu biasanya hanya daunnya. Sekarang sampai kulitnya (mengering dan mengelupas). Otomatis kami memandang pohon itu sudah mati.”

Upaya penyelamatan sempat dilakukan. Dinas Lingkungan Hidup Magelang pernah berusaha mengobati randu alas tapi sia-sia.

Monumen Randu Alas

Baca Juga: 8 Tempat Camping di Magelang untuk Wisata Akhir Pekan Syahdu Anti Bising Kota

Kajian Fakultas Kehutanan dan Pertanian Universitas Gadjah Mada menyimpulkan bahwa randu alas Tuksongo tidak lagi bisa diselamatkan. Sekitar 95 persen batang pohonnya telah mati, sehingga dianggap rusak ekstrem.

Kondisi batang menghitam, kering, dan lapuk dengan jejak keberadaan serangga penggerek batang randu sebagai hama utama. Seluruh ranting telah kering, rapuh, dan mudah luruh.

Menolak melupakan randu alas, Adul Karim didukung warganya memutuskan untuk menjadikan sisa batang randu alas menjadi monumen peringatan.

“Opsi kami randu alas ditebang disisakan batang setinggi 8 meter dari bawah. Jadi walaupun pohon sudah ditebang, di sana kami tetap masih punya ikon desa,” kata Abdul Karim.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Magelang, Mulyanto, keputusan menebang randu alas merupakan hasil musyawarah Pemerintah Desa bersama tokoh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Magelang.

“Pemerintah desa memilih memadukan kepentingan publik dengan aspek keselamatan. Tanpa menghilangkan nilai ikon pariwisata.”

Load More