Budi Arista Romadhoni
Rabu, 08 Juli 2026 | 14:22 WIB
Gedung Radar Cuaca S-Band Cilacap di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang diresmikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada Rabu (8/7/2026) merupakan yang pertama di Indonesia. [ANTARA/Sumarwoto]
Baca 10 detik
  • BMKG meresmikan Radar Cuaca S-Band pertama di Cilacap, Jawa Tengah, untuk memperkuat sistem peringatan dini cuaca nasional.
  • Teknologi radar ini mampu mendeteksi potensi cuaca ekstrem hingga radius 400 kilometer dengan resolusi data yang sangat tinggi.
  • Fasilitas tersebut bertujuan meningkatkan keselamatan sektor transportasi serta mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir selatan Jawa.

SuaraJawaTengah.id - Masyarakat di pesisir selatan Pulau Jawa kini akan mendapatkan informasi cuaca yang lebih cepat dan akurat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengoperasikan Radar Cuaca S-Band pertama di Indonesia di Kabupaten Cilacap yang mampu mendeteksi hujan, badai, hingga potensi cuaca ekstrem dalam radius 400 kilometer, sekaligus memperkuat sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi.

Kehadiran radar berteknologi S-Band tersebut menjadi lompatan penting dalam sistem pemantauan cuaca nasional. Berbeda dengan radar cuaca konvensional, radar ini memiliki jangkauan paling luas di Indonesia sehingga mampu memantau pembentukan awan hujan, intensitas curah hujan, arah pergerakan badai, hingga potensi cuaca ekstrem secara lebih detail.

Usai meresmikan Gedung Radar Cuaca Cilacap di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Rabu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan radar tersebut merupakan Radar Cuaca S-Band pertama yang diresmikan di Indonesia dan menjadi bagian dari target pemenuhan 75 radar cuaca nasional.

"Saat ini BMKG telah memiliki 45 radar cuaca yang tersebar di berbagai daerah. Ini merupakan kerja keras kita semua untuk dapat memenuhi jangkauan radar cuaca di Indonesia," katanya.

Menurut Faisal, Cilacap dipilih karena berada di pesisir selatan Jawa yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, kawasan yang kerap menjadi jalur pembentukan cuaca ekstrem, hujan lebat, gelombang tinggi, hingga badai.

Data dari radar ini nantinya menjadi dasar penerbitan peringatan dini cuaca ekstrem yang lebih cepat sehingga masyarakat, nelayan, pelaku transportasi, hingga pemerintah daerah memiliki waktu lebih panjang untuk melakukan langkah antisipasi.

Selain untuk mitigasi bencana, radar tersebut juga berfungsi mendukung keselamatan penerbangan, pelayaran, transportasi darat, serta menyediakan data cuaca bagi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, energi, dan pembangunan daerah.

BMKG mencatat saat ini mengoperasikan sekitar 10.800 peralatan meteorologi, klimatologi, geofisika, dan maritim yang mendukung berbagai layanan informasi cuaca di Indonesia.

Sementara itu, Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan radar cuaca BMKG terdiri atas tipe X-Band, C-Band, dan S-Band.

Baca Juga: Oknum Polisi Tegal Terancam Sanksi Berat, Dugaan Narkoba dan Penganiayaan Didalami Polda Jateng

Radar S-Band menjadi teknologi paling canggih karena mampu menjangkau wilayah hingga 400 kilometer, jauh lebih luas dibanding radar C-Band yang hanya sekitar 200 kilometer dan X-Band sekitar 150 kilometer.

Tak hanya itu, radar ini juga memiliki resolusi tinggi sehingga informasi cuaca dapat disajikan hingga tingkat kelurahan, serta terintegrasi dengan jaringan radar BMKG di seluruh Indonesia dan dapat disinkronkan dengan radar milik TNI Angkatan Udara.

Pelaksana Tugas Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya menilai keberadaan radar tersebut akan memperkuat mitigasi dini bencana hidrometeorologi sekaligus meningkatkan keselamatan transportasi udara dan laut. Pemerintah Kabupaten Cilacap juga berharap keberadaan infrastruktur tersebut dapat menjadi pertimbangan pemerintah pusat untuk membuka kembali layanan penerbangan menuju Cilacap serta mendukung pengembangan Pelabuhan Tanjung Intan sebagai pelabuhan internasional terbuka.

Radar Cuaca S-Band Cilacap merupakan bagian dari proyek Development of Maritime Observation Infrastructure and Forecasting Technology for Maritime Meteorological System-2 (MMS-2) yang bertujuan memperkuat sistem observasi meteorologi maritim nasional, khususnya di wilayah pesisir selatan Jawa dan Samudra Hindia yang rawan cuaca ekstrem.

Load More