- Menjelang Ramadan, harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik, memaksa pemilik warung seperti Sofiati mengurangi margin keuntungan.
- Pedagang grosir di Pasar Borobudur mengamati kenaikan nyata harga telur dan minyak goreng, berbeda dengan data statistik deflasi Januari.
- Pedagang eceran mengurangi stok belanja bahan pokok karena daya beli masyarakat melemah, situasi ini dinilai lebih berat daripada Covid.
SuaraJawaTengah.id - Belum genap 15 hari lagi memasuki bulan Ramadan, gelagat kenaikan harga pangan mulai terasa. Dalam senyap, nilai jual kebutuhan pokok merangkak naik.
Saban tahun, Sofiati pemilik warung makan di Sawitan, Mungkid, dipaksa putar otak menyiasati kebutuhan belanja. Kenaikan harga beberapa barang sering tidak masuk akal.
Bukan apa-apa. Warung Sofiati sudah punya banyak pelanggan. Selain rasa yang bikin lidah nyaman, harga yang pas di kantong juga jadi alasan pembeli datang kembali.
Di pasar tradisional, teori ekonomi diuji dan lebih sering tumbang. Dalil ekonomi pasar mikro dihitung berdasarkan kalkulator dagang sederhana: Modal - harga barang = laba.
“Untuk harga-harga belum naik, tapi yang lain merambat sedikit,” katanya perlahan.
Harga telur misalnya yang sebelumnya Rp28 ribu, kini memantul di kisaran Rp30 ribu. Kadang turun, mendadak naik. Tidak ada pola yang jelas.
Sementara bumbu dapur seperti bawang, cabai, dan rempah-rempah kering mulai “menyesuaikan” harga tanpa pemberitahuan. “Biasanya naik dua kali lipat. Misal dari harga normal Rp5.000 bisa jadi Rp10.000. Seminggu sebelum Lebaran bisa lebih naik lagi.”
Di warung-warung kecil, setiap kenaikan harga bahan pokok bukan sekadar data statistik. Sebab perubahan harga berarti modal yang meningkat; keuntungan menyusut; dan daya beli pelanggan terkorosi.
Sofiati mengaku tidak bisa gegabah menaikkan harga sepiring nasi untuk menutup modal belanja. Meskipun dengan risiko biaya belanja naik yang otomatis mengurangi margin keuntungan. “Modal lebih besar, otomatis untungnya lebih sedikit.”
Baca Juga: Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
Stabil Tapi Rentan
Minyak goreng yang menjadi komoditas penting dalam operasional rumah makan masih relatif stabil. Sofiati memperkirakan kebutuhan minyak goreng di warungnya bisa sampai 12 liter per minggu.“Harga minyak masih standar, masih stabil,” katanya.
Meski begitu, Sofiati tidak bisa sepenuhnya anteng. Pengalaman bertahun-tahun mengajarkan bahwa harga yang stabil hari ini bisa jadi melonjak besok. Apalagi ini hampir bulan puasa.
Di Pasar Borobudur kami menemui Siti Rahmawati, salah satu pedagang grosir bahan-bahan pokok. Di sini cerita mengalir bahwa kenaikan harga terjadi lebih cepat dan nyata.
Harga telur ayam yang semula Rp27 ribu, per hari ini naik menjadi Rp28 ribu—dan itu baru permulaan. Menurut Siti, dari pengalaman sebelumnya saat Lebaran, harga telur bisa tembus Rp30 ribu per kilogram.
Minyak goreng, terutama merek yang tidak disubsidi seperti Rizki dan Hemart, mulai naik harga. Dari Rp190 ribu per karton, naik menjadi Rp193 ribu.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Bongkar Penyelewengan Subsidi, Polda Jateng Sita Ribuan Liter BBM dan Tabung LPG
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
BGN: Siswa di Pemalang Dikeluarkan karena Kritik MBG, Itu Tidak Benar
-
Gaduh PSSI Jateng Memanas! Demak Tuding Plt Provinsi 'Offside' Pecat Pengurus Daerah Tanpa Dasar