- Syamsudin membeli ponsel pertama Ericsson T10 bekas tahun 1997 seharga Rp750 ribu untuk mendukung usaha tanaman hiasnya.
- Sebelum HP, Syamsudin menggunakan pager tahun 1996 yang pengiriman pesannya sering tidak utuh dan butuh telepon umum untuk membalas.
- Evolusi ponsel dari teknologi analog 1G AMPS menuju smartphone mencerminkan perubahan cara manusia berkomunikasi dari menunggu menjadi serba instan.
Barang Koleksi
Ericsson T10 menjadi ponsel yang paling ia ingat dan paling berkesan. Meski kini ratusan telepon genggam berderet jadi koleksinya, T10 tetap memiliki tempat istimewa.
Syamsudin termasuk orang yang suka gonta-ganti telepon. Bukan karena bosan, tapi karena naluri pebisnis yang selalu ingin mencoba hal baru.
Rekor paling singkat memiliki HP hanya dua hari, lalu ganti lagi. Namun ponsel-ponsel itu tidak dijual tapi disimpan yang tanpa sengaja menjadi koleksinya.
Ketika usaha tanaman hias meredup, Syamsudin banting setir ke bisnis suku cadang sepeda motor. Di antara tumpukan rak sparepart motor ia kembali menemukan ponsel-ponsel lamanya.
“Dari situ saya bikin etalase kecil. Tadinya cuma mau buat pajangan. Tapi lama-lama jadi konter servis HP dan galeri ponsel jadul.”
Romantisme masa lalu itu mengubah jalan hidupnya. Syamsudin mulai berburu ponsel-ponsel lama. Membeli dan memperbaiki yang rusak, serta mengkanibal suku cadang untuk merekondisi ponsel utuh.
Dia menyimpan sebagian telepon genggam yang berhasil diselamatkan. Suku cadang yang masih bisa terpakai dijual lewat komunitas daring, terutama Facebook.
Harta Karun Motorola Aura
Baca Juga: 7 Fakta Mengerikan Kasus Ayah Perkosa Anak Kandung di Magelang
Puncak kisah jual-beli telepon genggam terjadi dari sebuah keberuntungan yang nyaris tak masuk akal. Suatu hari, Syamsudin bertemu penjual rosok keliling.
Di antara barang-barang bekas, ia melihat ponsel yang semula dikira produk China murahan. Penjual meminta harga Rp20 ribu. Syamsudin membelinya tanpa ekspektasi apa pun.
Belakangan dia baru sadar ponsel itu adalah Motorola Aura—ponsel premium berlapis logam dengan desain mewah dan detail berlian. Melalui jaringan komunitas, seorang kolektor dari Filipina tertarik.
Motorola Aura akhirnya terjual Rp12 juta. Syamsudin sendiri mengambil Rp8 juta, sedangkan sisanya dibagi bersama seorang perantara. “Buat saya itu sudah lebih dari cukup,” katanya. “Yang penting ceritanya.”
Uang dari jual-beli ponsel jadul membantu Syamsudin membangun hidupnya. Ia membuka konter, membesarkan jaringan, bahkan membangun rumah dua lantai.
Namun sejak 2016, Syamsudin berhenti berdagang. Ia memilih menyimpan telepon genggam miliknya menjadi barang koleksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Sleman Siaga Karhutla, Lereng dan Hutan Gunung Merapi Jadi Perhatian
-
Sekolah Kemitraan dan Mobilitas Sosial: Pendekatan Collaborative Governance
-
Ekspor Industri Jateng Melejit 41 Persen, Konsumsi Rumah Tangga Justru Melambat
-
Sampah Bukan Cuma Urusan Pemerintah, Ahmad Luthfi Soroti Mentalitas Warga
-
Ekspor Jateng Tembus 7 Miliar Dolar, Sarif Abdillah: Jangan Cuma Jual Bahan Baku!