- Buruh tani seperti Sulistiani menerima upah tandur dibayar tunai per luasan lahan, panen melalui bagi hasil gabah kering 1:8.
- Ketergantungan penghasilan musiman memaksa buruh tani mencari pendapatan tambahan, seringkali dengan membuat jajan pasar saat jeda.
- Kondisi buruh tani mencerminkan tingginya angka kemiskinan perdesaan dan kerentanan pangan akibat terbatasnya daya beli.
SuaraJawaTengah.id - Hari mulai merembang petang, ketika Sulistiani menggulung kepang tempatnya menjemur gabah. Panas matahari sepanjang siang tadi tidak begitu dirasa.
Sebagai buruh tani, hari-hari Sulistiani bergantung dari upah tandur dan panen padi di sawah orang. Tanpa jaminan penghasilan tetap. Yang ada hanya takaran seberapa kuat tubuhnya mampu menjalani kerja kasar.
“Kalau tanam padi itu hitungannya per satu kesuk—seribu meter persegi. Satu kesuk dibayar Rp100 ribu,” kata Sulistiani saat ditemui di rumahnya di Sawangan, Magelang.
Upah dibagi rata sejumlah orang yang ikut turun ke sawah. Semakin banyak jumlah buruh tandur, semakin sedikit bagian upah yang mereka terima.
Keuntungannya pekerjaan bisa cepat selesai. Pada musim tanam padi, dalam sehari Sulistiani bisa berpindah-pindah tandur hingga 2-3 petak sawah.
Sistem kerja buruh tani tidak hanya tanam padi. Saat masa panen, Sulistiani kembali turun ke sawah dengan skema kerja dan aturan upah yang berbeda.
Buruh tani saat panen tidak mendapat upah uang tunai. Tapi bagi hasil gabah kering dengan perbandingan 8:1.
Dari setiap 8 kilogram gabah yang diterima pemilik sawah, buruh tani menerima jatah 1 kilogram. Risikonya, buruh tani bertanggung jawab menangani padi dari sejak diani-ani, dirontokan, sampai menjemurnya hingga kering.
Pekerja tani yang masih muda dan kuat, biasanya mampu memanen padi lebih banyak. Ada etika tidak tertulis, petani gurem yang berhak ikut panen hanya mereka yang dulu ikut tandur.
Baca Juga: Relasi Kuasa dalam Keluarga: Bapak di Kota Magelang Diduga Perkosa Anak Kandung
Berlaku juga hukum komunitas bahwa buruh tani yang hampir semuanya perempuan ini, tidak boleh dibantu oleh para suami atau anak laki-laki. Maksud aturan ini agar ada pemerataan kemampuan kerja.
Jual Beras Beli Makan
Gabah hasil mburuh, digiling untuk dijual. Sebagian disimpan untuk makan sendiri atau celengan jika sewaktu-waktu membutuhkan uang.
Saat musim panen sedang bagus, Sulistiani bisa mengumpulkan tiga kuintal beras dari banyak sawah. Bukan dari satu lahan, melainkan dari jaringan kerja—ikut tandur dan panen sana-sini.
Meski lahan sawah di Sawangan bisa ditanami sepanjang tahun, tetap ada jeda antara masa tanam dan panen. Di masa itulah Sulistiani mencari tambahan penghasilan.
Di dapurnya yang sempit, ia membuat aneka jajan pasar untuk dititipkan pada penjaja kue atau pedagangan sayur keliling. “Saya bikin dadar gulung dan makanan dari singkong. Kadang rame, kadang sepi. Hasil untungnya nggak pasti.”
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Ribuan Pelari Siap Tumpah di Semarang, AHY Run Jateng 2026 Targetkan 5.000 Peserta
-
Mooncake Festival 2026 Jadi Ruang Akulturasi Budaya di Semarang
-
Rayakan Pestapora 2026 Bareng BRImo, Ada Cashback dan Keseruan di Booth BRI
-
Bupati Gowa Jadi Tersangka Dugaan Korupsi PBG, Kuasa Hukum Langsung Laporkan Penyidik
-
Mooncake Festival Dorong Pecinan Semarang Jadi Ruang Budaya yang Hidup