- Syamsudin membeli ponsel pertama Ericsson T10 bekas tahun 1997 seharga Rp750 ribu untuk mendukung usaha tanaman hiasnya.
- Sebelum HP, Syamsudin menggunakan pager tahun 1996 yang pengiriman pesannya sering tidak utuh dan butuh telepon umum untuk membalas.
- Evolusi ponsel dari teknologi analog 1G AMPS menuju smartphone mencerminkan perubahan cara manusia berkomunikasi dari menunggu menjadi serba instan.
SuaraJawaTengah.id - Jauh sebelum gawai spek premium membanjiri pasaran, telepon genggam berteknologi sederhana pernah jadi tren pada masanya.
Telepon genggam dengan peranti Advanced Mobile Phone System (AMPS) adalah teknologi seluler analog generasi pertama atau 1G. Teknologi jaringan modern hari ini—5G dikembangkan dari metode kerja analog itu.
Syamsudin termasuk orang yang beruntung. Dia mengikuti evolusi fitur dan teknologi hand phone selama dua generasi.
Perih. Pahit. Senang. Perasaan serupa jatuh cinta itu selalu datang bersamaan, setiap kali Syamsudin menggenggam Ericsson tipe T10. Ponsel bertombol dengan casing biru itu, bukan sekadar barang tua yang kini menghuni etalase pameran.
Bagi Syamsudin, Ericsson T10 adalah saksi perjuangan hidupnya menjemput mimpi dengan cara yang sederhana. “Ericsson T10 adalah telepon genggam pertama saya. Saya beli second sekitar tahun 1997,” kata Syamsudin.
Telepon genggam pabrikan Swedia itu dibelinya dari seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang. Ditebus seharga Rp750 ribu, angka yang tidak sedikit pada masa itu.
Tapi buat Syamsudin, ponsel itu bukan simbol gaya hidup. Tapi lebih merupakan alat bertahan. “Saya punya usaha tanaman hias. Kios ada tiga. Jadi lebih sering di lapangan, jarang di rumah. Memang butuh telepon mobile.”
Pager Hingga Telepon Pintar
Sebelum punya HP, Syamsudin lebih dulu merasakan pager. Alat penyeranta itu dibeli di Tangerang tahun 1996.
Baca Juga: 7 Fakta Mengerikan Kasus Ayah Perkosa Anak Kandung di Magelang
Isi pesan pager sering terkirim bak teka-teki karena kabar jarang sekali datang secara utuh. Pesan pager harus melewati operator yang kadang salah menyampaikan berita.
Belum lagi, jika pager berbunyi Syamsudin tetap harus mencari telepon umum untuk membalas pesan. Kehadiran Ericsson T10 terasa seperti lompatan besar kemudahan komunikasi.
Apalagi saat itu telepon genggam bukan benda yang jamak. Diantara teman-teman sebaya, baru Syamsudin yang sudah metereng kemana-mana mengantongi HP.
Jangan bayangkan teknologi selular secanggih sekarang. Ericsson T10 cuma punya memori menyimpan 20 nomor telepon. “Jadi saya tetap bawa buku telepon yang bisa dilipat masuk kantong. Tulisannya kecil-kecil.”
Cakupan wilayah jaringan telepon bergerak juga masih sangat terbatas. Untuk menelepon ke luar kota, Syamsudin harus hafal kode area. Kemana-mana dia membawa buku panduan berisi kode telepon kota-kota se-Indonesia.
Telepon genggam jaman dulu juga rakus listrik. Setiap membeli ponsel baru pasti dibekali baterai cadangan. Kemana pergi harus sedia dua baterai—satu terpasang, satu disimpan. “Tapi justru disitu nikmatnya,” ujar Syamsudin tersenyum.
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Serbuan Digital di Jateng: Trafik Indosat di Brebes Meledak 71 Persen, AI Jadi Kunci Sukses Mudik
-
Hadapi Risiko Global, Industri Perbankan Jaga Likuiditas dan Kualitas Aset
-
Kerbau Bule Pikat Ribuan Warga: Lomban Syawalan Jepara 2026 Bangkitkan Ekonomi dan Lestarikan Budaya
-
Jawa Tengah Berpotensi Diguyur Hujan Ringan: BMKG Ingatkan Masyarakat Tetap Waspadai Cuaca Ekstrem
-
Kunjungan Melonjak 5,25 Persen! Revolusi Wisata di Jawa Tengah, Urban dan Instagramable Jadi Magnet