Budi Arista Romadhoni
Selasa, 10 Februari 2026 | 07:37 WIB
Kolektor HP tua, Syamsudin, memamerkan koleksinya di Lokabudaya Sukimin Adiwiratmoko, Kota Magelang. (Suara.com/ Angga Haksoro Ardi).
Baca 10 detik
  • Syamsudin membeli ponsel pertama Ericsson T10 bekas tahun 1997 seharga Rp750 ribu untuk mendukung usaha tanaman hiasnya.
  • Sebelum HP, Syamsudin menggunakan pager tahun 1996 yang pengiriman pesannya sering tidak utuh dan butuh telepon umum untuk membalas.
  • Evolusi ponsel dari teknologi analog 1G AMPS menuju smartphone mencerminkan perubahan cara manusia berkomunikasi dari menunggu menjadi serba instan.

SuaraJawaTengah.id - Jauh sebelum gawai spek premium membanjiri pasaran, telepon genggam berteknologi sederhana pernah jadi tren pada masanya.    

Telepon genggam dengan peranti Advanced Mobile Phone System (AMPS) adalah teknologi seluler analog generasi pertama atau 1G. Teknologi jaringan modern hari ini—5G dikembangkan dari metode kerja analog itu.

Syamsudin termasuk orang yang beruntung. Dia mengikuti evolusi fitur dan teknologi hand phone selama dua generasi.  

Perih. Pahit. Senang. Perasaan serupa jatuh cinta itu selalu datang bersamaan, setiap kali Syamsudin menggenggam Ericsson tipe T10. Ponsel bertombol dengan casing biru itu, bukan sekadar barang tua yang kini menghuni etalase pameran.

Bagi Syamsudin, Ericsson T10 adalah saksi perjuangan hidupnya menjemput mimpi dengan cara yang sederhana. “Ericsson T10 adalah telepon genggam pertama saya. Saya beli second sekitar tahun 1997,” kata Syamsudin.

Telepon genggam pabrikan Swedia itu dibelinya dari seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang. Ditebus seharga Rp750 ribu, angka yang tidak sedikit pada masa itu.

Tapi buat Syamsudin, ponsel itu bukan simbol gaya hidup. Tapi lebih merupakan alat bertahan. “Saya punya usaha tanaman hias. Kios ada tiga. Jadi lebih sering di lapangan, jarang di rumah. Memang butuh telepon mobile.”

Pager Hingga Telepon Pintar

Sebelum punya HP, Syamsudin lebih dulu merasakan pager. Alat penyeranta itu dibeli di Tangerang tahun 1996.

Baca Juga: 7 Fakta Mengerikan Kasus Ayah Perkosa Anak Kandung di Magelang

Isi pesan pager sering terkirim bak teka-teki karena kabar jarang sekali datang secara utuh. Pesan pager harus melewati operator yang kadang salah menyampaikan berita.   

Belum lagi, jika pager berbunyi Syamsudin tetap harus mencari telepon umum untuk membalas pesan. Kehadiran Ericsson T10 terasa seperti lompatan besar kemudahan komunikasi.

Apalagi saat itu telepon genggam bukan benda yang jamak. Diantara teman-teman sebaya, baru Syamsudin yang sudah metereng kemana-mana mengantongi HP.

Jangan bayangkan teknologi selular secanggih sekarang. Ericsson T10 cuma punya memori menyimpan 20 nomor telepon. “Jadi saya tetap bawa buku telepon yang bisa dilipat masuk kantong. Tulisannya kecil-kecil.”   

Cakupan wilayah jaringan telepon bergerak juga masih sangat terbatas. Untuk menelepon ke luar kota, Syamsudin harus hafal kode area. Kemana-mana dia membawa buku panduan berisi kode telepon kota-kota se-Indonesia.

Telepon genggam jaman dulu juga rakus listrik. Setiap membeli ponsel baru pasti dibekali baterai cadangan. Kemana pergi harus sedia dua baterai—satu terpasang, satu disimpan. “Tapi justru disitu nikmatnya,” ujar Syamsudin tersenyum.

Load More