- Pedagang mobil bekas menghadapi ketidakpastian keuntungan akibat kebijakan opsen pajak kendaraan bermotor yang berlaku.
- Opsi pajak baru menyebabkan kenaikan biaya operasional tahunan untuk unit mobil bekas yang belum terjual.
- Pemerintah menjelaskan opsen pajak bertujuan meningkatkan transparansi bagi hasil dan kemandirian fiskal daerah.
SuaraJawaTengah.id - Pasca pemberlakuan opsen pajak kendaraan bermotor, para pedagang mobil bekas harus lebih cermat berhitung. Bukan hanya menghitung selisih harga beli dan jual, tetapi juga risiko jika pajak kendaraan keburu jatuh tempo sebelum mobil laku.
Buat pemilik kendaraan pribadi, nilai beban opsen pajak mungkin tidak seberapa. Tapi bagi pedagang mobil bekas, beban pajak tidak hanya sekadar kewajiban administratif, tapi salah satu penentu untung-rugi.
“Kalau mobil belum laku tapi pajaknya sudah hampir habis, ya tetap kita bayarkan,” kata Subkhi, pedagang mobil bekas asal Sleman yang siang itu mengurus perpanjangan pajak kendaraannya di Samsat Mungkid, Magelang.
Subkhi menjalankan jurus jual-beli mobil yang cerdas tapi berisiko. Dia memutuskan menanggung pajak mobil yang akan dijual agar nilai jual naik.
Menurut Subkhi, mobil dengan pajak baru dibayar lebih menarik minat pembeli. “Orang kan nggak mau repot. Kalau pajaknya baru, minatnya lebih besar. Jadi itu nilai tawar,” katanya.
Namun disisi lain, kenaikan komponen pajak kendaraan akibat kebijakan opsen membuat perhitungan margin keuntungan semakin ketat.
Pajak tahunan unit Suzuki Ertiga tahun 2013 yang sebelumnya Rp1,95 juta, kini menjadi Rp2,45 juta. Kenaikannya hampir Rp450 ribu.
Subkhi juga harus membayar pajak tahunan Toyota Vios yang kenaikannya bisa lebih dari Rp500 ribu. Ada komponen bagi hasil penerimaan pajak sebesar 16 persen untuk pemerintah kabupaten dan kota.
Nego Alus Laba Tipis
Baca Juga: Jeritan Rakyat Kecil: Pajak Opsen Bikin Kantong Bolong, Beban Ekonomi Semakin Berat
Pemberlakuan opsen membuat pedagang seperti Subkhi harus menyesuaikan harga jual, atau rela mengurangi margin keuntungan. “Kalau enggak disesuaikan nanti kita rugi. Tapi juga enggak bisa asal naikkan harga. Harus nego sama pembeli,” katanya.
Dalam praktiknya, negosiasi kerap terjadi. Jika pajak tinggal sebulan lagi, pembeli biasanya meminta agar pajak dibayarkan sekalian.
Dalam kondisi seperti itu, Subkhi punya dua pilihan: Menanggung penuh pembayaran pajak tahunan atau berbagi beban dengan pembeli. “Kadang kita bantu separo. Pajaknya Rp2 juta, kita bantu Rp500 ribu, sisanya pembeli. Tergantung kesepakatan.”
Dia mengakui keuntungan penjualan mobil bekas umumnya masih bisa menutup beban kenaikan pajak. Rata-rata margin laba per unit mobil bekas bisa di atas Rp4 juta. “Tapi tetap saja, itu mengurangi untung.”
Pajak Kendaraan dan Kondisi Jalan
Bagi Subkhi, persoalan bukan semata pada kenaikan nominal. Ia menyoroti efektivitas penggunaan pajak untuk pembangunan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- 5 Motor Listrik Terbaik Buat Ojol: Jarak Tempuh Jauh, Harga Terjangkau, Mesin Bandel
- 6 Bedak Padat untuk Makeup Natural dan Anti Kusam, Harga Terjangkau
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- 5 Motor Listrik Fast Charging, Bebas Risau dari Kehabisan Baterai di Jalan
Pilihan
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
Terkini
-
32 Tahun Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai, Warga Boyolali Akhirnya Merdeka Berkat Jembatan Garuda
-
Sapu dan Harapan: Cerita Penyandang Disabilitas di Balik Kebersihan Dapur MBG di Karanganyar
-
Dari Kebun ke Dapur, Petani Sayur Boyolali Temukan Harapan Baru Lewat MBG
-
Dari Sasak Rapuh ke Jembatan Kokoh Garuda, Akses Warga Pilangrejo Boyolali Kembali Lancar
-
Sarif Abdillah: Bank Daerah Harus Jadi Motor Penggerak Ekonomi Jawa Tengah